Human Interest Story
Cerita Gias Tomayahu, Duta Budaya FSB UNG 2024
Cerita Abdul Gias Tomayahu, Duta Budaya Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) 2024.
Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Ponge Aldi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Abdul-Gias-Tomayahu-mahasiswa-UNG-88999.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, GORONTALO – Cerita Abdul Gias Tomayahu, Duta Budaya Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) 2024.
Pemuda yang akrab disapa Gias itu berbagi tips-tips dalam meraih kemenangan di ajang bergengsi ini.
Warga asal Gorontalo Utara mengatakan penampilan rapi dan sikap percaya diri adalah langkah pertama yang tidak boleh dianggap remeh.
“Penampilan yang menarik sudah pasti akan memberikan kesan pertama yang baik juga. Tapi, yang lebih penting adalah sikap. Sikap yang baik, rasa percaya diri, dan rasa menghargai orang lain itu juga bisa membawa kita lebih jauh dalam kompetisi ini,” kata Gias kepada TribunGorontalo.com, Selasa (10/12/24).
Sebagai Duta Budaya, pemahaman yang mendalam tentang budaya lokal menjadi hal yang tidak boleh terpisahkan.
Menurut Gias, wawasan tentang budaya inilah yang akan meningkatkan kepercayaan diri saat berbicara di depan juri.
“Ketika kita memahami budaya lebih dalam, kita akan mampu menyampaikan pengetahuan dengan lebih meyakinkan dan percaya diri. Jadi, cintailah budaya kita dengan mendalam terlebih dahulu,” tambahnya.
Gias juga menekankan, public speaking adalah keterampilan yang harus dikuasai calon Duta Budaya.
Untuk itu, pria 17 tahun itu menyarakan agar para calon duta berlatih berbicara di depan umum terlebih dahulu.
“Kalau dari saya pribadi, latihan berbicara dan menjawab pertanyaan dengan baik itu juga salah satu kunci utama dalam ajang seperti ini,” ujar Gias.
Tak melulu soal kemampuan dan keterampilan, Gias juga menyebut pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental.
“Untuk tampil maksimal, kita harus siap secara fisik dan mental. Jadi, pastikan sehat bugar agar bisa tampil dengan energi positif, terutama jangan sering begadang,” tuturnya.
Gias menambahkan bahwa membangun koneksi dengan peserta lain dan juri juga menjadi salah satu poin penting.
“Ajang seperti ini juga bisa dimanfaatkan untuk belajar dari orang lain dan menunjukkan sikap positif vibes. Selain itu, taati semua aturan yang ada,” ungkapnya.
Kini dengan menyandang gelar Duta Budaya FSB UNG 2024, Gias siap melangkah lebih jauh dalam mempromosikan budaya Gorontalo.
Baginya, ia merasa bangga sekaligus memikul tanggung jawab besar untuk mengenalkan budaya Gorontalo ke masyarakat luas.
Untuk itu, ia berharap generasi muda juga dapat lebih peduli terhadap pelestarian budaya.
“Budaya yang hidup adalah budaya yang terus berkembang. Dengan menjadi Duta Budaya FSB, saya ingin terus membantu menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi agar budaya kita tetap relevan di era modern. Mari kita saling rangkul melestarikan budaya Gorontalo,” pungkasnya. (*/Tika)
| Tips Kuat Puasa saat Bekerja ala Kasmat dan Sasmita, Pegawai Minimarket Gorontalo |
|
|---|
| Sejak 1985, Ridwan Baat Setia Jual Balon Karakter di Kota Gorontalo, Terbukti Mampu Sekolahkan Anak |
|
|---|
| Sosok Vecky van Gobel, Eks Juru Sita Pengadilan Gorontalo Kini Jadi Sopir Bentor |
|
|---|
| Kisah Yus Sahi Perintis Kopi Surplus Gorontalo: Makna Memanusiakan Manusia |
|
|---|
| Cerita Ismail Husin, Mahasiswa UNG Tekuni Dunia Jurnalistik |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.