Sabtu, 7 Maret 2026

Menteri Prabowo Gibran

Sama-sama Pilih Loyalis Masuk Kabinet, Prabowo Subianto dan Donald Trump Dinilai Mirip

Prabowo Subianto Presiden republik Inodnesia dinilai mirip dengan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Tayang:
Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Sama-sama Pilih Loyalis Masuk Kabinet, Prabowo Subianto dan Donald Trump Dinilai Mirip
CNBC Indonesia
Foto Kolase Presiden AS, Donald Trump dan Presiden RI Prabowo Subianto. (AP Photo) 

"Para loyalis tersebut adalah bagian dari Dream Team yang dipimpin Trump, dan dipersepsikan mampu menjalankan tugas secara bertanggung jawab," lanjut dia.

Menurut para pengamat, apa yang dilakukan Trump serupa tapi tak sama dengan Prabowo ketika menunjuk para pembantunya di pemerintahan. 

Pengamat mengatakan ini hal yang wajar dan merupakan hak prerogatif seorang presiden, namun tetap ada risiko yang mengintai atas pilihan-pilihan tersebut.

Serupa Tapi Tak Sama

Tidak lama setelah diangkat presiden pada 20 Oktober lalu, Prabowo menetapkan jajaran kabinet gemuk yang terdiri dari 55 menteri/pejabat setingkat menteri dan 56 wakil menteri.

Selain para profesional, isi Kabinet Merah Putih Prabowo bertabur loyalis, simpatisan, dan para petinggi partai dari koalisi pendukung Prabowo. 

Salah satunya adalah Sugiono, wakil ketua umum Gerindra, yang ditunjuk menteri luar negeri. 

Sugiono tidak punya pengalaman sebagai diplomat. 

Padahal tiga menlu sebelumnya sejak 2004 hingga 2024 adalah para diplomat karier kawakan yang sudah malang melintang di Kementerian Luar Negeri.

Prabowo juga mempertahankan 17 menteri sebelumnya di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, meski beberapa posisi mereka tidak lagi sama. 

Sejak kampanye tahun lalu, meneruskan kebijakan Jokowi memang telah menjadi jargon Prabowo.

Ujang Komarudin, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, mengatakan kabinet Prabowo terdiri dari empat kluster, yaitu orang partai politik, profesional, loyalis, dan tim sukses atau simpatisan.

Menurut Ujang, dalam konteks politik, pemilihan loyalis dalam kabinet - baik oleh Trump maupun Prabowo - adalah sesuatu yang wajar, meski memang idealnya profesional harus menempati porsi besar jika ingin pemerintahan berjalan dengan lebih baik.

"Loyalis itu kesetiaannya telah teruji ... Sejatinya loyalis perlu diberi tempat karena sudah berdarah-darah ikut berjuang, dan ketika menang dikasih posisi, itu wajar, asalkan memiliki kecakapan dan keahlian yang baik," kata Ujang.

"Trump juga melakukan hal yang sama, menunjuk yang loyal. Loyalitas menjadi penting, karena di politik banyak terjadi pengkhianatan," lanjut dia.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved