Pemilihan Presiden Amerika
BREAKING NEWS: Trump Klaim Menang Pilpres Amerika, Harris Masih Tunggu Hasil Penghitungan
Jika kemenangannya final, maka Ini menandai comeback politik luar biasa empat tahun setelah ia meninggalkan Gedung Putih.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Calon-presiden-dari-Partai-Republik-Donald-Trump-mengklaim-kemenangan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Mantan Presiden AS Donald Trump mengklaim kemenangan di Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika, Rabu (6/11/2024).
Sebelumnya Fox News memproyeksikan bahwa Trump mengalahkan kandidat Demokrat, Kamala Harris.
Jika kemenangannya final, maka Ini menandai comeback politik luar biasa empat tahun setelah ia meninggalkan Gedung Putih.
"Amerika telah memberikan mandat yang belum pernah terjadi sebelumnya," seru Trump pada Rabu pagi di hadapan para pendukungnya yang berkumpul di Palm Beach County Convention Center.
Meskipun media lain belum mengumumkan hasil akhir untuk Trump, ia terlihat unggul setelah memenangkan negara-negara bagian kunci seperti Pennsylvania, North Carolina, dan Georgia, serta memimpin di empat negara bagian lainnya menurut Edison Research.
Kamala Harris, sementara itu, belum menyampaikan pidato kepada para pendukungnya yang berkumpul di almamaternya, Howard University.
Salah satu ketua kampanye Harris, Cedric Richmond, berbicara singkat kepada massa setelah tengah malam dan menyampaikan bahwa Harris akan berbicara pada hari Rabu.
"Masih ada suara yang harus dihitung," katanya.
Trump menunjukkan kekuatannya di seluruh wilayah AS, bahkan berhasil meningkatkan dukungan dibandingkan pemilu 2020 di berbagai area, baik perkotaan maupun pedesaan.
Exit polls menunjukkan bahwa Trump memperoleh lebih banyak dukungan dari pemilih Hispanik dan rumah tangga berpenghasilan rendah yang merasakan dampak kenaikan harga sejak pemilu 2020.
Ia meraih 45 persen suara pemilih Hispanik secara nasional, tertinggal dari Harris yang memperoleh 53 persen, namun Trump naik 13 persen dibandingkan tahun 2020.
Lebih dari sepertiga pemilih menyatakan ekonomi adalah isu utama bagi mereka, dan dari kelompok ini, 79 persen memilih Trump, sementara hanya 20 persen mendukung Harris.
Sebanyak 45 persen pemilih juga mengaku situasi keuangan keluarga mereka lebih buruk daripada empat tahun lalu, dan mereka memberikan dukungan besar kepada Trump dengan perbandingan 80 persen banding 17 persen.
Di Howard University, banyak pendukung Harris mulai meninggalkan acara saat menyadari bahwa sang kandidat belum akan memberikan pernyataan.
Richmond menyampaikan bahwa masih ada suara yang harus dihitung dan beberapa negara bagian yang belum selesai menghitung hasil pemilu.
Trump berhasil memperoleh dukungan yang lebih besar dibandingkan empat tahun lalu di hampir seluruh wilayah AS, termasuk di wilayah suburban, pedesaan, hingga beberapa kota besar yang biasanya menjadi basis suara Demokrat.
Dalam wilayah dengan tingkat pengangguran yang tinggi maupun yang mencapai rekor terendah, Trump menunjukkan peningkatan dukungan.
Di sisi lain, Harris berharap mendapat dukungan besar di kawasan perkotaan dan suburban, tetapi dukungannya di sana lebih rendah dibandingkan hasil yang diperoleh Presiden Joe Biden pada 2020.
Hampir tiga perempat pemilih menyatakan bahwa demokrasi Amerika dalam ancaman, mencerminkan polarisasi yang semakin dalam dalam pemilu yang sengit ini.
Sebelum pemungutan suara ditutup, Trump mengklaim tanpa bukti di Truth Social bahwa terjadi "banyak pembicaraan tentang kecurangan besar" di Philadelphia, mengulang tuduhan tak berdasar yang ia lontarkan pada 2020 bahwa ada kecurangan di kota-kota besar yang dikuasai Demokrat.
Ia juga menyebut bahwa kecurangan terjadi di Detroit. Namun, tuduhan ini dibantah oleh pejabat setempat.
"Saya tidak menanggapi omong kosong," ujar Janice Winfrey, pejabat pemilu Detroit, kepada Reuters. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.