Human Interest Story
Nasib Pekerja Batu Kapur Desa Buliide Gorontalo, Penghasilan Tak Menentu
Produksi ini dikelola mayoritas oleh warga setempat dan menjadi mata pencaharian utama bagi banyak keluarga di Kecamatan Kota Barat Gorontalo tersebut
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Produksi-batu-kapur-di-Desa-Buliide-Kecamatan-Kota-Barat-Kota-Gorontalo-Selasa-5112024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Desa Buliide telah lama dikenal sebagai pusat produksi batu kapur di Gorontalo.
Produksi ini dikelola mayoritas oleh warga setempat dan menjadi mata pencaharian utama bagi banyak keluarga di Kecamatan Kota Barat Gorontalo tersebut.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, usaha yang dulunya menjanjikan ini mulai mengalami kemunduran, dengan permintaan yang kian berkurang dan harga jual yang tidak stabil.
Proses produksi batu kapur di Desa Buliide dilakukan dengan cara tradisional.
Baca juga: Kisah Sukses Kias, Petani Lobster Air Tawar dari Limboto Gorontalo dengan Nama Almashyra Farm
Warga menggunakan tungku besar sederhana yang dinyalakan dengan kayu bakar sebagai bahan bakar utama.
Kayu tersebut diperoleh dari penebangan pohon di pinggir jalan atau pembersihan kebun warga sekitar.
Setelah batu kapur dibakar selama sehari penuh hingga matang, batu-batu tersebut didinginkan dengan cara disiram air, lalu ditapis hingga halus.
Metode manual ini telah dijalankan warga sejak tahun 1960-an dan bertahan hingga sekarang.
Andi Masulili, seorang pekerja batu kapur berusia 38 tahun, menceritakan bahwa saat ini dia kesulitan mendapatkan penghasilan dari produksi batu kapur karena permintaan pasar menurun drastis.
“Sekarang sudah parah sekali. Sudah hampir dua minggu ini tidak ada pembeli. Kadang-kadang, dalam sehari pendapatan tidak sampai Rp 100 ribu,” ujar Andi.
Baca juga: 22 Tahun Berkarir: Kisah Mohamad Eka, Montir dan Pembalap di Boalemo
Dia menjelaskan bahwa produksi batu kapur saat ini kebanyakan diminta untuk keperluan pertambangan emas, namun pesanan sudah jarang datang.
Menurut Andi, dulu dia bisa memproduksi sekitar 120 sak batu kapur per hari, yang dijual seharga Rp 5 ribu per sak.
Namun, karena permintaan menurun, ia hanya memproduksi sekitar 100 sak per hari.
Setiap sak batu kapur memiliki berat 12 kilogram, dan sebelum pandemi COVID-19, harganya mencapai Rp 7 ribu per sak.
"Penurunan harga dan pesanan ini terjadi setelah pandemi COVID-19 melanda. Sebelumnya, harga per sak bisa Rp 7 ribu, tapi sekarang hanya Rp 5 ribu," tambahnya.
Kisman Ruhban, rekan Andi yang juga bekerja di produksi batu kapur, mengungkapkan bahwa usaha ini sempat berjaya antara tahun 2019 hingga 2021.
Pendapatan saat itu mencapai Rp 4 juta per bulan. Namun, sejak tahun 2022, pendapatan mereka mulai tidak menentu.
Kisman menyebutkan bahwa harga dan permintaan batu kapur belum pulih seperti sebelum pandemi, padahal mereka bergantung pada penghasilan ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Terlepas dari berbagai tantangan, Andi dan Kisman tetap bertekad untuk melanjutkan usaha mereka.
Andi yang telah menekuni usaha batu kapur sejak 2019 mengaku bahwa penghasilan dari produksi batu kapur ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, termasuk biaya pendidikan anaknya yang masih belajar di usia dini.
"Iya, penghasilan dari sini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya lirih.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.