Human Interest Story
22 Tahun Berkarir: Kisah Mohamad Eka, Montir dan Pembalap di Boalemo
“Setelah lulus dari SMK, saya langsung bekerja di bengkel ayah yang berada di Desa Mohungo," ujarnya saat berbincang dengan TribunGorontalo.com pada J
Penulis: Nawir Islim | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Namanya Mohamad Eka, seorang pria kelahiran Sulawesi Tengah pada tahun 1984.
Ia mengabdikan dirinya sebagai montir selama lebih dari 22 tahun.
Perjalanan kariernya dimulai di bengkel milik ayahnya, tempat di mana ia belajar banyak tentang mesin dan teknik perbengkelan.
“Setelah lulus dari SMK, saya langsung bekerja di bengkel ayah yang berada di Desa Mohungo," ujarnya saat berbincang dengan TribunGorontalo.com pada Jumat, 1 November 2024.
"Dari situlah, saya mulai belajar banyak tentang mesin dan hal-hal lainnya," tambah dia.
Dalam dua tahun bekerja di bengkel, Eka mengasah keterampilannya dan mendapatkan pengalaman berharga.
Ia kemudian mengambil langkah besar dengan bergabung dalam tim balap motor.
“Pada tahun 2004, saya bergabung dengan salah satu tim balap di Manado sebagai teknisi mesin,” jelasnya.
Selama 14 tahun berkiprah di dunia balap, Eka berhasil meraih beberapa gelar juara, berkat kontribusinya dalam sistem mesin para pembalap.
Pengalaman ini mengantarkannya ke peluang lain, termasuk undangan dari tim Pertamina untuk mengikuti uji coba sebagai anggota tim mesin dalam perlombaan motor matic pada tahun 2012.
“Walaupun tidak lolos dalam uji coba itu, setidaknya saya bisa membuktikan kualitas saya, hingga dilirik oleh perusahaan besar,” ungkapnya dengan bangga.
Pada tahun 2017, Eka memutuskan untuk kembali ke Gorontalo dan membuka bengkel di Desa Mohungo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo.
Di sini, ia ingin menerapkan semua pengetahuan dan pengalaman yang telah diperolehnya.
Tidak berlangsung lama, pada tahun 2018, ia mendirikan tim balap motor bernama 'Eka Racing', yang telah aktif berpartisipasi dalam berbagai perlombaan motor matic di Provinsi Gorontalo.
“Kami pernah meraih juara satu dalam balapan yang diadakan di Popayato, dan juga mendapatkan posisi ketiga di Boalemo,” kenangnya sambil tersenyum.
Selama lebih dari dua dekade berkarir di dunia perbengkelan dan balap, Eka berharap agar bisnis yang dijalaninya dapat terus berkembang.
“Pengalaman yang cukup lama ini sudah membuahkan banyak hasil. Mungkin yang saya inginkan hanyalah kelancaran dari semua pekerjaan saya,” pungkasnya. (*)
| Kisah Inspiratif Casriyati Tarpo di Gorontalo, Bantu Ekonomi Keluarga dengan Jualan Cendol |
|
|---|
| Kisah Iptu Fitri S Ali Sosok Kapolsek Telaga Biru, 4 Kali Gagal Tes TNI Gorontalo |
|
|---|
| Saad Lintang Mahasiswa Gorontalo yang Curi Perhatian, Tekuni Fotografi dan Jurnalistik Sekaligus |
|
|---|
| Cerita Andi Samsudin Geluti Usaha Pisang di Gorontalo, Punya Pelanggan Luar Daerah |
|
|---|
| Sosok Opa Asi, Penjual Pepaya di Rumah Adat Dulohupa Gorontalo |
|
|---|