Berita Lingkungan

Emisi Metana Dunia Meningkat Tajam Meski Ada Janji Pengurangan

Tujuannya jelas untuk memperlambat pemanasan global sambil memberi waktu untuk mengurangi emisi karbon dioksida.

|
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
(Photo by David Thielen on Unsplash)
Gas metana di dunia makin meningkat. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Sejak 2021, dunia mencanangkan Global Methane Pledge untuk memotong emisi metana sebesar 30 persen pada akhir dekade.

Tujuannya jelas untuk memperlambat pemanasan global sambil memberi waktu untuk mengurangi emisi karbon dioksida.

Hingga kini, lebih dari 150 negara telah menandatangani janji ini, mewakili lebih dari separuh emisi metana global, gas rumah kaca yang sangat kuat meski berumur pendek.

Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan emisi metana global terus meningkat.

Konsentrasinya di atmosfer kini tumbuh lebih cepat daripada periode mana pun dalam 40 tahun terakhir sejak pencatatan global dimulai.

Temuan ini dipublikasikan dalam laporan anggaran metana global keempat oleh Global Carbon Project, melibatkan 66 lembaga penelitian dari seluruh dunia.

Manusia Mempercepat Emisi Metana

Metana secara alami dihasilkan dari pembusukan materi organik di lahan basah.

Namun, aktivitas manusia telah mempercepat emisi metana. Manusia kini bertanggung jawab atas dua pertiga dari seluruh emisi metana global.

Sumber utama emisi metana adalah peternakan, pertanian, pengelolaan sampah, dan ekstraksi bahan bakar fosil.

Pertanian menyumbang 40 persen, bahan bakar fosil 36 persen, serta tempat pembuangan sampah dan air limbah 17 persen.

Emisi metana dari bahan bakar fosil kini sebanding dengan emisi dari peternakan.

Tempat pembuangan sampah dan bahan bakar fosil, terutama gas alam yang terlepas selama proses ekstraksi, menjadi kontributor terbesar yang terus meningkat.

Mengapa Metana Berbahaya?

Metana adalah gas rumah kaca terpenting kedua setelah karbon dioksida. Meski emisi metana lebih sedikit, dampaknya jauh lebih kuat.

Metana 80 kali lebih efektif dalam menjebak panas dibandingkan CO₂ dalam dua dekade pertama setelah dilepaskan ke atmosfer.

Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sejak era pra-industri, dunia telah memanas sebesar 1,2°C, dengan sekitar 0,5°C dari angka tersebut disebabkan oleh metana, 

Metana yang cepat terurai membuatnya menjadi ancaman jangka pendek, namun sangat efektif dalam memicu pemanasan global.

Lonjakan emisi metana juga semakin memperparah situasi. Pada 2020, pertumbuhan emisi metana mencapai 42 juta ton, dengan laju peningkatan yang lebih tinggi daripada periode sebelumnya.

Laju pertumbuhan emisi metana yang tinggi membawa dampak serius. Konsentrasi metana di atmosfer kini konsisten dengan skenario pemanasan hingga 3°C pada 2100.

Target Paris Agreement untuk menjaga suhu global di bawah 2°C mengharuskan emisi metana dikurangi hampir setengahnya, yakni sebesar 45 persen pada 2050.

Meski tantangannya besar, ada solusi yang bisa diterapkan. Sektor minyak dan gas, misalnya, dapat mengurangi emisi hingga 40 persen tanpa biaya bersih, menurut International Energy Agency (IEA).

Di sektor pertanian, pengurangan dapat dicapai melalui aditif pakan ternak dan pengelolaan air di sawah padi.

Teknologi untuk menangkap metana dari tempat pembuangan sampah juga sudah ada dan mapan.

Lima negara penyumbang emisi terbesar pada 2020 adalah Tiongkok (16 persen), India (9 persen), Amerika Serikat (7 persen), Brasil (6 persen), dan Rusia (5 persen).

Wilayah dengan pertumbuhan tercepat dalam emisi metana adalah Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah.

Sementara itu, negara-negara Eropa dan Australia telah menunjukkan pengurangan emisi dari limbah dan pertanian.

Upaya untuk mengurangi emisi metana harus segera dipercepat. Tiga tahun setelah dunia berkomitmen untuk memangkas emisi metana, kenyataan menunjukkan janji tersebut belum tercapai.

Mengurangi emisi metana tidak hanya akan memperlambat perubahan iklim, tetapi juga memberi waktu lebih untuk mengatasi emisi karbon dioksida yang lebih kompleks.

Dengan komitmen global yang lebih kuat, setiap langkah kecil dalam mengurangi metana dapat membawa dampak besar bagi masa depan planet ini. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved