Berita Lingkungan
Emisi Metana Dunia Meningkat Tajam Meski Ada Janji Pengurangan
Tujuannya jelas untuk memperlambat pemanasan global sambil memberi waktu untuk mengurangi emisi karbon dioksida.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
Metana 80 kali lebih efektif dalam menjebak panas dibandingkan CO₂ dalam dua dekade pertama setelah dilepaskan ke atmosfer.
Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sejak era pra-industri, dunia telah memanas sebesar 1,2°C, dengan sekitar 0,5°C dari angka tersebut disebabkan oleh metana,
Metana yang cepat terurai membuatnya menjadi ancaman jangka pendek, namun sangat efektif dalam memicu pemanasan global.
Lonjakan emisi metana juga semakin memperparah situasi. Pada 2020, pertumbuhan emisi metana mencapai 42 juta ton, dengan laju peningkatan yang lebih tinggi daripada periode sebelumnya.
Laju pertumbuhan emisi metana yang tinggi membawa dampak serius. Konsentrasi metana di atmosfer kini konsisten dengan skenario pemanasan hingga 3°C pada 2100.
Target Paris Agreement untuk menjaga suhu global di bawah 2°C mengharuskan emisi metana dikurangi hampir setengahnya, yakni sebesar 45 persen pada 2050.
Meski tantangannya besar, ada solusi yang bisa diterapkan. Sektor minyak dan gas, misalnya, dapat mengurangi emisi hingga 40 persen tanpa biaya bersih, menurut International Energy Agency (IEA).
Di sektor pertanian, pengurangan dapat dicapai melalui aditif pakan ternak dan pengelolaan air di sawah padi.
Teknologi untuk menangkap metana dari tempat pembuangan sampah juga sudah ada dan mapan.
Lima negara penyumbang emisi terbesar pada 2020 adalah Tiongkok (16 persen), India (9 persen), Amerika Serikat (7 persen), Brasil (6 persen), dan Rusia (5 persen).
Wilayah dengan pertumbuhan tercepat dalam emisi metana adalah Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah.
Sementara itu, negara-negara Eropa dan Australia telah menunjukkan pengurangan emisi dari limbah dan pertanian.
Upaya untuk mengurangi emisi metana harus segera dipercepat. Tiga tahun setelah dunia berkomitmen untuk memangkas emisi metana, kenyataan menunjukkan janji tersebut belum tercapai.
Mengurangi emisi metana tidak hanya akan memperlambat perubahan iklim, tetapi juga memberi waktu lebih untuk mengatasi emisi karbon dioksida yang lebih kompleks.
Dengan komitmen global yang lebih kuat, setiap langkah kecil dalam mengurangi metana dapat membawa dampak besar bagi masa depan planet ini. (*)
| Banjir Pohuwato Tak Bisa Disalahkan ke PETI Saja, Ini Kata WALHI Gorontalo |
|
|---|
| Gercep! Tim Kebersihan Pastikan Sampah Sisa Tahun Baru di Kota Gorontalo Tak Kesiangan |
|
|---|
| TPA Talumelito Gorontalo Masih Andalkan Cara 'Kuno' Kelola Sampah, Anggaran Tak Sampai Rp 1 Miliar |
|
|---|
| Tumpukan Sampah di Danau Limboto Kian Mengkhawatirkan, Warga dan Nelayan Mengeluh Bau Busuk |
|
|---|
| Jadi Rest Area Burung Migran dari Berbagai Negara, Kondisi Danau Limboto Gorontalo Disorot Aktivis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Gas-metana-di-dunia-makin-meningkat.jpg)