Ancaman Deforestasi Gorontalo
17 Ribu Ha Hutan Alam Gorontalo Terancam Ditebang Habis untuk Produksi Wood Pellet
Dorongan kebutuhan ekspor wood pellet yang semakin meningkat, terutama ke Jepang dan Korea Selatan, menempatkan kawasan hutan ini dalam bahaya.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pengangkutan-kayu-di-kawasan-idustri-Wood-Pallet-Gorontalo.jpg)
"Pemanfaatan kayu dari hutan alam tidak berkontribusi pada transisi energi yang seharusnya mengurangi emisi," kata Anggi.
Renal Husa dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Gorontalo juga menolak keras proyek bioenergi yang mencakup area seluas 282 ribu hektar.
Ia memperingatkan bahwa proyek ini mengancam ruang kelola masyarakat dan berpotensi menimbulkan bencana ekologis baru.
Menurutnya, hutan Gorontalo harus dikelola oleh masyarakat lokal, bukan oleh korporasi, mengingat sejarah panjang konflik dengan masyarakat setempat.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Terry Repi, seorang akademisi dari Universitas Muhammadiyah Gorontalo, mengutarakan kekhawatirannya terhadap dampak serius bioenergi terhadap biodiversitas.
Ia menjelaskan bahwa konversi hutan untuk bioenergi dapat mempercepat hilangnya habitat, merusak ekosistem, dan butuh waktu puluhan tahun untuk memulihkan kembali fungsi hutan sebagai penyerap CO2.
Menurutnya, asumsi bahwa bioenergi dari kayu bersifat netral karbon adalah terlalu optimis dan dapat menunda upaya mitigasi perubahan iklim yang lebih efektif.
"Dibutuhkan waktu yang sangat lama, antara 44 hingga 104 tahun, bagi hutan untuk menyerap kembali kelebihan CO2 setelah penebangan," tegas Dr. Repi.
Dr. Abubakar Siddik Katili, akademisi dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), turut menambahkan bahwa kerusakan ekosistem akibat proyek bioenergi berisiko merusak fungsi hutan sebagai penyedia jasa lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa setiap tindakan yang mengabaikan keseimbangan ekologis akan berdampak besar pada lingkungan dan kehidupan makhluk lain.
"Kerusakan ekosistem dan lingkungan adalah cerminan dari karakter serta perilaku yang abai terhadap keseimbangan sistem ekologis," pungkasnya.
Ancaman nyata terhadap hutan alam Gorontalo ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati dan lingkungan, tetapi juga kehidupan masyarakat lokal yang bergantung pada kelestarian hutan tersebut.
Perlu tindakan tegas dan kesadaran kolektif untuk menghentikan deforestasi dan menjaga keberlanjutan ekosistem hutan Gorontalo. (*)
Catatan Redaksi: Hingga berita ini dimuat, TribunGorontalo.com masih berupaya mengonfirmasi terkait data ini kepada pihak perusahaan.