Human Interest Story
Cerita Jufrin Talani, Akhiri Karier 17 Tahun sebagai Honorer demi Beternak Puyuh di Gorontalo
Jufrin Talani (40) warga Desa Suka Damai, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Jufri-Kamaru-saat-memberi-makan-ternak-puyuh-miliknya.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Jufrin Talani (40) warga Desa Suka Damai, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Ia merupakan peternak puyuh.
Jufrin mengaku sebelumnya adalah pegawai honorer di Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo.
Ia menjadi honorer sejak 2007 tapi akhirnya berhenti pada awal tahun 2024.
"Sekarang saya fokus di usaha saya meski hanya kecil-kecilan," kata Jufrin kepada TribunGorontalo.com, Minggu (4/8/2024).
Jufrin melakoni usaha ternak puyuh sejak 2018. Namun sempat terhenti tahun 2021 karena kandangnya rusak dan ternak diserang hama (tikus).
"Karena saya tidak fokus mengurus kandang, dulu saya masih sibuk dengan jadi honorer," ucapnya.
Jufrin sempat beternak ayam pada akhir 2021.
"Setelah ayam ada, pada bulan Oktober 2023 saya mulai berternak puyuh lagi," terangnya.
Jufrin diberikan telur tetas oleh temannya sebanyak 100 butir. Kini ia memiliki sekitar 600 ekor indukan puyuh. Terbagi jantan 150 ekor dan betina 450 ekor.
"Ini baru indukan, bukan untuk dikonsumsi, untuk konsumsi ada lagi," tuturnya.
Ia pun menamai usahanya 'Pondok Ternak'.
"Rencana saya ingin membuat pondok, ini hanya sementara lokasi kandang untuk puyuh," katanya.
Sekarang ini Jufrin sudah bisa menjual bibit sebanyak 5.000 ekor ke peternak-peternak di Gorontalo.
Untuk harga telur Rp. 1.000 perbutir karena menurutnya telur tetas berbeda dengan telur yang dikonsumsi.
"Kalau telur tetas ada embrio di dalam telurnya, kalau telur konsumsi tidak bisa karena dia hanya dari pakan," terangnya.
Jufrin menyampaikan untuk telur menetas sebanyak 400 butir per hari.
Baca juga: 8 Tahun Jualan Bendera Merah Putih di Gorontalo, Abdul Thalib Cerita Kala Raup Omzet Rp24 Juta
Ide Jufrin sampai menjadi ternak puyuh, sebelumnya ia adalah pengurus badan usaha milik desa (Bumdes) tahun 2018.
Tapi sayangnya uang Bumdes ada di rekening desa tidak dikirim ke rekening Bumdes. Dari situ ia memutuskan diri untuk mundur.
Kemudian seorang teman mengusulkan buat usaha ternak puyuh.
"Dari situ saya mulai berternak puyuh," terangnya.
Awal 2018, Jufrin pernah beternak 1.000 ekor. Selang tiga bulan, ia menambah lagi 1.000 ekor. Lalu 500 ekor. Jadi total sekarang mencapai 2.500 ekor.
"Saya rencana beternak sekitar 3.000 sampai 4.000 ekor," tambahnya.
Untuk pakan ternak, Jufrin menghabiskan 12-15 kilogram per hari.
"Saya sedia pakan per minggu 100 kilogram. Harga pakan Rp435.000 per karung," jelasnya.
Modal awal pun dipinjam dari bank sebesar Rp20 juta.
Omzet sekarang untuk telur Rp200 ribu per hari. Untuk bibit per minggu sekitar Rp2 juta, sebulan sekitar Rp8 juta.
Jufrin mulai memberikan makan 3 sampai 4 kali sehari. Ia setiap hari memeriksa kandang mulai pukul 06.00 Wita.
Lokasi kandangnya berada di Dusun 2 Desa Suka Damai, Kecamatan Bulango Utara. Bone Bolango.
Jufrin pun mengungkapkan alasan usahanya bertahan sampai sekarang karena disiplin dan konsisten.
"Jadi jangan hanya setengah-stengah," ucap dia.
Jufrin sekarang tidak lagi membeli bibit karena ia telah menyiapkan mesin penetas telur.
Ia mendapatkan pelanggan melalui unggahan di sosial media. Para pembeli satu per satu.
Sejauh ini, Jufrin mengaku masih berharap bantuan dari pemerintah.
"Tolong diperhatikan kami ini peternak," pungkasnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry)
Ikuti Saluran WhatsApp TribunGorontalo untuk informasi dan berita menarik lainnya
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.