Update Kabar Dunia

Alasan Islamic Center Hamburg Jerman Ditutup Pemerintah

Informasi yang dihimpun TribunGorontalo.com, aktivitas di wilayah ini diduga berkaitan dengan ekstremisme, sebagaimana dilaporkan oleh

|
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
Jrm
Pemerintah Jerman menutup Islamic Center, Rabu (24/7/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Menteri Dalam Negeri Jerman, Nancy Faeser, mengumumkan rencana pelarangan aktivitas di Islamic Center Hamburg (IZH), Rabu (24/7/2024). 

Informasi yang dihimpun TribunGorontalo.com, aktivitas di wilayah ini diduga berkaitan dengan ekstremisme, sebagaimana dilaporkan oleh Dnyuz pada hari Rabu.

Tidak hanya itu, pada Rabu pagi, puluhan polisi Jerman menggerebek Masjid Biru di Hamburg, yang terletak di kawasan elit di tepi Danau Outer Alster.

Masjid ini dikelola oleh Islamic Center Hamburg, menurut laporan dari Yahoo News.

Masjid Imam Ali, yang dikenal secara lokal sebagai Masjid Biru, memiliki sejarah panjang dan merupakan salah satu masjid tertua di Jerman.

Langkah tegas ini menunjukkan komitmen Jerman dalam memerangi ekstremisme dan menjaga keamanan nasional.

Namun, tindakan ini juga memicu berbagai reaksi dan akan menjadi sorotan utama dalam perkembangan hubungan komunitas Muslim di negara tersebut.

Islamic Centre Hamburg (IZH), salah satu masjid tertua di Jerman dan Eropa.

Gedung ini juga dikenal sebagai Blaue Moschee (masjid biru), telah berdiri sejak akhir 1950-an oleh sekelompok emigran dan pengusaha Iran.

Pusat ini telah menjadi tempat bagi teolog dan politisi Iran terkenal, termasuk Ayatollah Beheshti, Ayatollah Mohammad Mojtahed Shabestari, dan Mohammad Khatami.

Sejarah IZH

Pada tahun 1953, sekelompok warga Iran yang tinggal di Jerman mengadakan pertemuan di Hotel Atlantic, Hamburg, dan membahas kebutuhan untuk mendirikan pusat keagamaan mereka sendiri.

Mereka mengirim surat kepada almarhum Grand Ayatollah Seyyed Husayn Borujerdi yang menyetujui rencana tersebut dan menyumbangkan 100.000 Rials untuk pusat tersebut.

Pembangunan dimulai pada tahun 1960 dan selesai pada tahun 1965. Pada tahun yang sama, Ayatollah Mohammad Beheshti ditunjuk untuk memimpin pusat tersebut.

Selama tahun 1970-an, pusat ini memainkan peran penting dalam membangkitkan semangat politik mahasiswa Iran di Barat melawan rezim Shah dan berkontribusi pada Revolusi Iran.

Sejak tahun 1993, Hamburger Verfassungsschutz (HV) memantau IZH sebagai pos terdepan Pemerintah Republik Islam Iran karena hubungan ideologis, organisasi, dan pribadi dengan rezim tersebut.

HV menganggap IZH bekerja melawan tatanan masyarakat demokratis. IZH telah berulang kali memprotes pemantauan ini tetapi tidak berhasil menghentikannya.

Pada tahun 2016, anggota IZH turut serta dalam protes anti-Israel di Berlin di mana Israel dicap sebagai "musuh kemanusiaan" dan "teroris", yang menjadi bagian dari perdebatan publik yang berkepanjangan tentang organisasi komunitas Islam di Jerman.

Omid Nouripour, pemimpin Partai Hijau Jerman, telah menyerukan penutupan Islamic Centre di Hamburg, yang ia gambarkan sebagai "sarang mata-mata".

Penutupan Islamic Centre Hamburg ini menambah babak baru dalam hubungan antara komunitas Muslim dan pemerintah Jerman, serta menimbulkan berbagai reaksi dari berbagai pihak.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved