Human Interest Story
Cerita Ririn Mamonto, Guru SD di Gorontalo Nyambi Jualan Nasi Kuning Tiap Hari Minggu
Ririn Mamonto, seorang guru SD berjualan nasi kuning di Taman Taruna Remaja, Gorontalo.
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ririn-Mamonto-penjual-nasi-kuning-di-Kawasan-Taman-Taruna-Remaja-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Ririn Mamonto, seorang guru SD berjualan nasi kuning di Taman Taruna Remaja, Gorontalo.
Ririn Mamonto berjualan tepat di trotoar jalan.
"Mari, mari pak, bu, silakan mampir di lapak kami," teriak Ririn dengan santun kepada para pengendara yang melintas di Jalan Monginsidi, Kota Gorontalo.
Pantauan TribunGorontalo.com, sekira pukul 10.30 Wita, sudah tidak ada lagi masyarakat yang berolahraga di Kawasan Taman Taruna Remaja, Minggu (30/6/2024).
Matahari mulai meninggi, cuaca di sekitar Taman Taruna Remaja mulai terik.
Di sela-sela mengurusi barang dagangan, Ririn pun mulai bercerita.
Kata Ririn, ia berjualan di trotoar Jalan Monginsidi hanya setiap akhir pekan.
"Saya pilih berjualan setiap hari Minggu, karena di sini ramai masyarakat berkumpul untuk berolahraga," ucap Ririn kepada TribunGorontalo.com, Minggu (30/6/2024).
Selain itu, Ririn juga mengungkapkan bahwa ia tidak bisa berdagang setiap hari, karena ia memiliki peran lain.
"Karena, selain berjualan, saya punya aktivitas utama, yakni mengajar di SD," tuturnya.
Sebetulnya, di lapak Ririn tidak hanya ada nasi kuning saja. Terdapat beragam pilihan menu lainnya.
Mulai dari bubur ayam, bubur kacang hijau atau di Gorontalo dikenal dengan 'sorba', bubur sagela (roa), kopi, dan teh.
"Di lapak saya ini, orang banyak membeli karena saya tidak menggunakan santan sebagai bahan campuran di nasi kuning dan bubur ayam juga, bubur sagela," kata Ririn.
Masyarakat Gorontalo, sambung Ririn, tak sedikit menghindari konsumsi nasi kuning karena khawatir jadi penyebab tekanan darah tinggi hingga kolesterol.
"Nah, makanya saya berinovasi membuat nasi kuning dan bubur ayam tanpa santan dengan rasa yang tetap enak," ujarnya.
Ririn tidak sendiri menjaga lapaknya. Ia ditemani suaminya.
Suami Ririn juga ikut menggambarkan keseriusan ia dan istrinya menjual makanan kesukaan masyarakat Gorontalo dengan konsep yang lebih sehat.
"Kami berusaha memasaknya dengan bahan alami. Misalnya bubur ayam dan sagela, itu kami rendam dulu airnya dengan rempah-rempah seperti sereh, cengkeh, biji pala, daun pandan, lalu kami masukkan beras, tanpa santan," terang Suami Ririn.
Ririn dan suaminya memilih berdagang sebagai pekerjaan sampingan.
Mereka memiliki tiga orang anak. Ketiganya, sedang menempuh pendidikan di tingkat yang berbeda-beda.
"Kami berjualan untuk menambah penghasilan agar bisa membiayai sekolah anak-anak kami, ada yang sedang mondok, ada juga yang sudah kuliah," kata Ririn.
Baca juga: Wahana Rumah Hantu Drive Thru Launching Perdana di Gorontalo Senin Besok, Ini Lokasinya
Selain itu, rupanya memasak juga menjadi kesenangan Ririn sejak dulu.
"Sebelum terangkat menjadi guru, saya sudah senang memasak, jadi sekarang berjualan juga seperti penyaluran hobi, sangat dinikmati," ujarnya.
Ririn ingin sekali membuka lapak yang menetap di satu lokasi. Namun memang, kondisinya saat ini sedang tidak mendukung.
Ia hanya lebih sering menerima pesanan via telepon di hari-hari kerja.
"Biasanya, banyak yang order untuk acara hajatan seperti ulang tahun, syukuran kantor, dan lainnya," tukas Ririn.
Lapak kecil Ririn beberapa hari lagi akan mendapat label halal dari Kementerian Agama. Ia dan suaminya semakin bangga dengan usaha sederhana yang mereka rintis itu.
"Prosesnya sangat dinikmati, meski harus bangun jam 3 dini hari untuk menyiapkan semuanya. Hal paling saya syukuri, suami saya setia membantu saya untuk bekerja sama membangun usaha kecil ini," tandas Ririn.
(TribunGorontalo.com/Rafiqatul)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.