Kamis, 5 Maret 2026

Berita Nasional Terkini

Upacara HUT RI akan Digelar di IKN oleh Presiden Jokowi, Begini Kata Wakil Kepala BRIN

Presiden Jokowi ungkap akan menggelar Upacara HUT RI ke-79 pada 17 Agustus 2024 mendatang di IKN.

Tayang:
Editor: Tita Rumondor
zoom-inlihat foto Upacara HUT RI akan Digelar di IKN oleh Presiden Jokowi, Begini Kata Wakil Kepala BRIN
Tribunnews.com
Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksamana Madya TNI (Purnawirawan) Prof. Amarulla Octavian. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-79 pada tanggal 17 Agustus 2024.

Dimana HUT RI tahun ini akan diadakan pada dua lokasi yang berbeda.

Pertama, upacara akan dilangsungkan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Kalimantan Timur, yang akan dipimpin langsung oleh Presiden.

Kedua, Upacara di Istana Negara yang akan dipimpin oleh Wakil Presiden RI.

Baca juga: Apa Itu Sterno, Cairan yang Membakar Remaja Bali hingga Meninggal

Sementara itu, Presiden Jokowi menyatakan bahwa pada tahun depan, perayaan 17 Agustus akan dilakukan hanya di IKN setelah Keputusan Presiden tentang perpindahan IKN telah dikeluarkan pada hari Selasa, 11 Juni 2024.

Rencana ini mendapat dukungan dari Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksamana Madya TNI (Purnawirawan) Prof. Amarulla Octavian, yang menganggap Upacara Kemerdekaan RI di IKN sebagai wujud dari nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme.

“Jadi apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Negara agar upacara 17 Agustus di IKN di Nusantara, itu mengandung nilai-nilai nasionalisme, nilai-nilai patriotisme,” ungkapnya kepada media di Jakarta, Kamis (13/6/2024) dikutip dari Tribunnews.com.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo Rutin Cek Kelayakan Hewan Kurban

Prof. Amarulla sendiri sebagai Rektor Universitas Pertahanan (Unhan), menuturkan, bayang-bayang kolonialisme di Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat seharusnya sudah selesai.

“Jadi, kalau saya pribadi apakah mau pindah ke Palangkaraya, Jonggol atau sekarang itu ke Nusantara, bagi saya sama saja. Yang penting itu bangsa Indonesia bisa menunjukkan kedaulatannya. Kita mampu membuat ibu kota baru sebagai simbol nasionalisme, simbol patriotisme,” ujarnya. 

Peraih gelar Doktor (Strata-3/S3) Ilmu Sosiologi di Universitas Indonesia tersebut mengungkapkan bahwa saat Bung Karno hendak memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, banyak cendekiawan yang meragukan langkah tersebut.

Mereka mengajukan pertanyaan tentang kekurangan sistem pemerintahan, undang-undang, serta syarat-syarat bernegara lainnya yang belum terpenuhi.

Baca juga: 3 Berita Populer Gorontalo 13 Juni 2024: Warga Gembira Penetapan Tersangka Korupsi

Namun, Bung Karno memberikan jawaban atas keraguan tersebut dengan mengatakan “Nanti saja, merdeka dulu baru kita urus belakangan”.

“Sama seperti sekarang dengan IKN, nilai-nilai nasionalisme itu harus lebih mengemuka. IKN yang baru adalah wujud semangat nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia. Ini untuk generasi milenial dan generasi ke depan agar kebanggaannya sebagai bangsa Indonesia itu utuh. Tidak ada bayang-bayang kolonialisme pada masa lalu,” imbuhnya.

“Nah ini yang perlu diketahui oleh banyak kalangan terutama para milenial. Ini sejarah, sejarah kita sendiri. Agar para generasi muda ini punya kebanggaan nasional. Dengan ibu kota baru ini adalah National Pride,” lanjut dia.

Prof. Amarulla juga mengilustrasikan perpindahan ibu kota negara di beberapa negara maju lainnya, seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Baca juga: Wajah-wajah Baru Anggota DPRD Bone Bolango Terpilih Pemilu 2024, Ini Daftar Lengkap Nama dan Suara

Contohnya adalah perpindahan dari Philadelphia ke Washington DC. Washington DC sendiri dirancang oleh seorang arsitek Prancis.

“Di mana ketika itu semangatnya kenapa membuat ibu kota baru itu juga untuk menunjukkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme. Karena pada waktu Inggris menjajah Amerika Serikat pusatnya itu di Boston. Makanya disebut daerahnya itu kan Dominion New England atau England baru, Inggris baru. Artinya bagi orang Inggris wilayah Amerika itu merupakan wilayah Inggris yang baru. Amerika jajahan Inggris.” ungkapnya.

Setelahnya, terjadi pergerakan menuju kemerdekaan Amerika Serikat.

Pada tahun 1776, Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya, dan ibu kotanya tidak berada di Boston.

Baca juga: Cerita Robin Panigoro, Kayuh Sepeda Ontel Setiap Pagi demi Jualan Kue Tradisional Gorontalo

Philadelphia kemudian menjadi ibu kota sementara hingga pada tahun 1790, Keputusan Senat Amerika Serikat untuk mendirikan ibu kota baru diambil, dan lokasinya diputuskan berada di Washington DC.

Hingga saat ini, generasi muda Amerika Serikat melihat Washington DC sebagai pusat semangat kebangsaan yang selalu berkobar.

"Amerika itu 'kan merdeka 1776. Sama seperti Indonesia, Indonesia merdeka 1945. Setelah itu Amerika perang kemerdekaan selama 6 tahun sampai dengan 1783. Sama dengan Indonesia, Indonesia juga perang kemerdekaan dari 1945 sampai 1949. Nah, perang kemerdekaan Indonesia selesai tahun 1949, salah satunya karena kemenangan diplomasi di Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Amerika Serikat juga selesai perang kemerdekaan melalui Paris Treaty," paparnya.

Baca juga: Murid SD Belajar di Ruangan Bekas WC, Kepsek 2 Kali Lapor Dinas Pendidikan Tidak Ada Hasil

Menurut Prof. Amarulla, kemenangan diplomasi Amerika dalam Perjanjian Paris tahun 1783 memiliki kesamaan dengan Indonesia.

Pada saat Amerika memperoleh kedaulatan penuh yang dicapai pada tahun 1783, baru kemudian muncul gagasan untuk mendirikan ibu kota baru pada tahun 1790.

“10 tahun saja, jadi Washington DC dibangun pada waktu itu hanya 10 tahun. Tahun 1800 sudah ditempati. Jadi sama persis ketika itu presiden George Washington menyelenggarakan upacara di Washington DC,” ulasnya.

Dalam catatan sejarah, Jakarta sebelumnya dikenal sebagai Batavia.

Batavia adalah ibu kota pemerintahan Hindia-Belanda.

Kemudian, nama Jakarta diubah oleh Jepang menjadi Batavia, yang menjadi pusat pemerintahan pendudukan Bala Tentara Jepang selama Perang Dunia Kedua.

Amarulla mengungkapkan bahwa jika ibu kota Indonesia tetap berada di Jakarta, sebagian orang Indonesia, terutama generasi senior, mungkin masih akan melihat pemerintahan saat ini sebagai kelanjutan dari pemerintahan Hindia-Belanda.

Hal ini disebabkan oleh penggunaan nama Batavia untuk Jakarta dan keberadaan istana presiden yang dulunya adalah istana Gubernur Jenderal Hindia-Belanda.

“Kita harus memahami bahwa ibu kota di seluruh dunia utamanya adalah simbol negara, simbol nasionalisme, simbol kejayaan suatu bangsa,” tandasnya. (*)

 

 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Jokowi Akan Gelar Upacara HUT RI di IKN, Wakil Kepala BRIN: Itu 'National Pride', https://www.tribunnews.com/nasional/2024/06/13/jokowi-akan-gelar-upacara-hut-ri-di-ikn-wakil-kepala-brin-itu-national-pride

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved