Talkshow Tribun Gorontalo
Pj Gubernur Gorontalo Ismail Pakaya Singgung Masalah Tenaga Kerja hingga Stunting di Talkshow Tribun
Setelah sebulan sebelas Pj Gubernur Ismail Pakaya merasa ada tiga pr (pekerjaan rumah) yang perlu segera diatasi.
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pj-Gubernur-Gorontalo-kemeja-putihmenjadi-pembicara-dalam-talk-show.jpg)
Selain itu penduduk yang bekerja di sektor nonformal lebih banyak yakni 63,73 persen.
Angka pekerja di sektor formal itu sebenarnya mengalami kenaikan dari tahun 2022, yakni sekitar 1,24 persen.
Akan tetapi melihat potensi sumber daya Gorontalo, maka perlu pemberdayaan di sektor formal.
Terlebih Gorontalo masih masuk ke provinsi termiskin kelima dari 34 provinsi di Indonesia.
"Apakah urutannya sudah turun atau bagaimana belum tahu. Soalnya provinsi sekarang sudah 38," ungkapnya.
Menurut datanya, Gorontalo masih masuk ke kemiskinan ekstrem yakni di atas dua persen.
Rencana pemerintah pusat, kemiskinan ekstrem di Indonesia harus nol persen pada 2024.
Baca juga: Dian Nugraha Kepala Perwakilan BI Ungkap Perekonomian Gorontalo hingga Strategi Pengendalian Inflasi
Masalah Stunting
Selain itu, masalah stunting juga masih cukup besar di Gorontalo. Berdasarkan data, angka stunting di Gorontalo mencapai 26 persen pada 2023.
Oleh sebab itu, masalah ini pun sama pentingnya dengan penyerapan tenaga kerja dan pemberantasan kemiskinan.
Sebab stunting bisa menjadi satu penyebab terkendalanya penyelesaian masalah lainnya.
Karena itu, menurut ismail pakaya penyelesaian masalah stunting harus dilakukan 'by name by addres'
Sehingga bisa melakukan intervensi pangan langsung terhadap bayi maupun balita yang diduga mengalami stunting.
Namun yang menjadi kendalanya adalah data itu hanya didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Sehingga data yang didapat hanya berupa angka, bukan alamat maupun identitas penyintas.