Human Interest Story

Lion Mustapa Mengais Rezeki di Pantai Kurenai Gorontalo

Pria 46 tahun ini mendirikan warung makan kecil, menyajikan gorengan, tahu isi, dan makanan ringan lainnya kepada para pengunjung Pantai Kurenai. 

|
Penulis: Andika Machmud | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/AndikaMachmud
Lion Mustapa, seorang penjual di Pantai Kurenai, Bone Bolango, Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Lion Mustapa telah menjadi bagian dari Pantai Kurenai, Bone Bolango, Gorontalo, selama lebih dari 5 tahun.

Pria 46 tahun ini mendirikan warung makan kecil, menyajikan gorengan, tahu isi, dan makanan ringan lainnya kepada para pengunjung Pantai Kurenai

Kehidupannya di Kurenai penuh dengan pasang surut. Pendapatannya tidak menentu, tergantung pada jumlah pengunjung yang datang.

Di akhir pekan dan hari libur nasional, dia bisa meraup lebih dari 1 juta rupiah. Tapi di hari kerja, penghasilannya bisa turun hingga 50 ribu rupiah.

"Saya bersyukur meskipun pendapatan tidak tentu. Walaupun sedikit, tidak apa-apa," kata Lion dengan senyum.

Baca juga: Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo Akan Coblos di TPS 03 Desa Tinelo

Lion menceritakan berbagai perubahan yang dia saksikan di Kurenai. Dari awalnya hanya segelintir penjual, kini pantai tersebut ramai dengan warung makan yang menawarkan menu serupa.

Dia juga menghadapi beberapa tantangan, seperti biaya retribusi yang cukup tinggi dan minimnya fasilitas, seperti air bersih dan toilet.

Diketahui biaya retribusi penjual makanan di sekitar kurenai dipatok harga Rp 650 ribu perbulan.

Namun, ia menjelaskan jika harga tersebut hanya berupa sewa tanah.

"Kami bangun (tempat jualan) semua dari tanah kosong," katanya.

Lion mengaku biaya tersebut tidak termasuk listrik dan air.

Ia menceritakan banyak pengunjung yang mengeluh untuk membersihkan tubuh di kamar mandi harus mengeluarkan uang lagi sebesar Rp 5 ribu.

Namun, ia selalu sabar dan coba berterus terang ke pengunjung. 

Dirinya mengaku beberapa kali melihat adanya upaya pengeboran untuk pengaliran air namun hasilnya nihil.

"Air untuk bilas ini kami harus ambil dari Desa Botubarani sebelah," ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved