Hari Patriotik Gorontalo
Isi Naskah Proklamasi yang Dibacakan Nani Wartabone di Hari Patriotik Gorontalo 23 Januari 1942
Pada hari itu juga, Gorontalo telah menyatakan ikut bergabung menjadi bagian Negara Indonesia dengan Merah Putih sebagai bendera Negara dan Indonesia
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Naskah-Proklamasi-Kemerdekaan-Gorontalo-23-Januari-1942.jpg)
Pasukan ini berhasil menarik simpati masyarakat yang dilaluinya, mulai dari tanah Suwawa, hingga akhirnya berhasil mengajak ribuan orang dari berbagai daerah untuk ikut bersama-sama menyerbu pusat kota pemerintahan Belanda.
Pendang Kalengkongan dan Ardani Ali dari unsur Kepolisian lokal pun akhirnya ikut bergabung dengan pasukan rakyat untuk merebut kemerdekaan.
Hingga akhirnya mereka tiba di Kota Gorontalo, tepatnya di kompleks pemerintahan kolonial Belanda.
Pasukan Rimba bersama rakyat kemudian mulai menguasai markas atau tangsi polisi hingga melakukan penangkapan terhadap para pejabat pemerintah Belanda, orang-orang Belanda, serta aparat Kepolisian Belanda di Gorontalo.
Dalam catatan sejarah, operasi perebutan kekuasaan oleh Pasukan Rimba bersama rakyat Gorontalo setidaknya berhasil menangkap 15 orang anggota pemerintah kolonial Belanda.
Setibanya di depan Kantor Pos Gorontalo, Bendera Merah Putih pun dikibarkan sebagai pertanda Gorontalo telah dibebaskan dari penjajah Belanda, bebas dan merdeka, serta menjadi bagian dari Negara Indonesia.
Pada momen ini, lagu kebangsaan Indonesia Raya pun turut dinyanyikan oleh seluruh rakyat Gorontalo yang begitu riuh dan ramai memenuhi halaman Kantor Pos, tempat digelarnya proklamasi kemerdekaan tersebut.
Selanjutnya, naskah proklamasi pun dibacakan oleh Nani Wartabone. Dalam pidatonya tersebut, Nani menegaskan bahwa rakyat Gorontalo sudah merdeka dan lepas dari penjajah Belanda.
Pada hari itu juga, Gorontalo telah menyatakan ikut bergabung menjadi bagian Negara Indonesia dengan Merah Putih sebagai bendera Negara dan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan negara.
Selepas seluruh pejabat pemerintah kolonial Belanda ditangkap, maka dibentuklah Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang juga terdiri dari 12 orang anggota Komite Dua Belas, dengan Nani Wartabone sebagai Kepala Pemerintahan Gorontalo.
PPPG ini bertujuan untuk menjalankan roda pemerintahan di Gorontalo yang telah ditinggalkan oleh penjajah Belanda.
Peristiwa Patriotik 23 Januari 1942 merupakan momen bersejarah bagi rakyat Gorontalo dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini terjadi tiga tahun lebih awal dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta tahun 1945.
Peristiwa ini juga menunjukkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang tinggi dari rakyat Gorontalo dalam melawan penjajah Belanda.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa rakyat Gorontalo telah siap untuk berdiri di atas kakinya sendiri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.(*)
| ORARI Lokal Gorontalo Berbagi 200 Paket Makanan untuk Pengendara Jalan di Momen Hari Patriotik |
|
|---|
| Momen Hari Patriotik 23 Januari, Pejagub Gorontalo Ruddy Salahuddin: Harus Merdeka dari Kemiskinan |
|
|---|
| Cucu Nani Wartabone Dorong Pemprov Gorontalo Bikin Film Perjuangan Rakyat Melawan Penjajah |
|
|---|
| Danrem dan Wakapolda Gorontalo Puji Strategi Nani Wartabone Proklamirkan Kemerdekaan |
|
|---|
| Peringatan Hari Patriotik di Gorontalo Bakal Dihiasi Haddad Alwi and Assamar Band Manggung |
|
|---|