Kamis, 12 Maret 2026

Hari Patriotik Gorontalo

Isi Naskah Proklamasi yang Dibacakan Nani Wartabone di Hari Patriotik Gorontalo 23 Januari 1942

Pada hari itu juga, Gorontalo telah menyatakan ikut bergabung menjadi bagian Negara Indonesia dengan Merah Putih sebagai bendera Negara dan Indonesia

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Isi Naskah Proklamasi yang Dibacakan Nani Wartabone di Hari Patriotik Gorontalo 23 Januari 1942
KolaseTribunGorontalo
Naskah Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo, 23 Januari 1942. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Tepat pada hari Jumat, 23 Januari 1942 atau tanggal 6 Muharram 1361 Hijriah, menggema dari lapangan Kantor Pos dan Telegraph (saat ini Kantor Pos Indonesia) suara Nani Wartabone

Sosok yang belakangan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional RI itu membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo dari cengkaraman kolonialisme Belanda saat itu. 

Pembacaan proklamasi kemerdekaan ini baru kemudian 3 tahun selanjutnya dilakukan oleh Soekarno dan Mohamad Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945. 

Artinya, 3 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Gorontalo yang posisinya beribu-ribu kilometer dari ibukota RI, sudah menyatakan kemerdekaan. 

Meski tidak ada aksi perang fisik karena Belanda langsung dilucuti tanpa perlawanan, namun Hari Proklamasi Gorontalo ini jadi sebuah hari yang sangat membekas di hati para warga Gorontalo. 

Begini isi naskah pidato proklamasi Nani Wartabone di 23 Januari 1942 tersebut:

“Pada hari ini tanggal 23 Djanoeari 1942,

kita bangsa Indonesia yang berada di sini soedah merdeka

bebas lepas dari pendjadjahan bangsa manapoen djuga.

Bendera kita jaitu Merah-Poetih,

lagoe kebangsaan adalah Indonesia Raya.

Pemerintahan Belanda soedah diambil alih oleh Pemerintah Nasional.

Mari kita mendjaga keamanan dan ketertiban”.

Peristiwa Sebelum Proklamasi

Pada hari Jumat, 23 Januari 1942, Pasukan Rimba pimpinan Nani Wartabone bergerak menuju pusat pemerintahan Belanda di Gorontalo.

Pasukan ini berhasil menarik simpati masyarakat yang dilaluinya, mulai dari tanah Suwawa, hingga akhirnya berhasil mengajak ribuan orang dari berbagai daerah untuk ikut bersama-sama menyerbu pusat kota pemerintahan Belanda.

Pendang Kalengkongan dan Ardani Ali dari unsur Kepolisian lokal pun akhirnya ikut bergabung dengan pasukan rakyat untuk merebut kemerdekaan.

Hingga akhirnya mereka tiba di Kota Gorontalo, tepatnya di kompleks pemerintahan kolonial Belanda.

Pasukan Rimba bersama rakyat kemudian mulai menguasai markas atau tangsi polisi hingga melakukan penangkapan terhadap para pejabat pemerintah Belanda, orang-orang Belanda, serta aparat Kepolisian Belanda di Gorontalo.

Dalam catatan sejarah, operasi perebutan kekuasaan oleh Pasukan Rimba bersama rakyat Gorontalo setidaknya berhasil menangkap 15 orang anggota pemerintah kolonial Belanda.

Setibanya di depan Kantor Pos Gorontalo, Bendera Merah Putih pun dikibarkan sebagai pertanda Gorontalo telah dibebaskan dari penjajah Belanda, bebas dan merdeka, serta menjadi bagian dari Negara Indonesia.

Pada momen ini, lagu kebangsaan Indonesia Raya pun turut dinyanyikan oleh seluruh rakyat Gorontalo yang begitu riuh dan ramai memenuhi halaman Kantor Pos, tempat digelarnya proklamasi kemerdekaan tersebut.

Selanjutnya, naskah proklamasi pun dibacakan oleh Nani Wartabone. Dalam pidatonya tersebut, Nani menegaskan bahwa rakyat Gorontalo sudah merdeka dan lepas dari penjajah Belanda.

Pada hari itu juga, Gorontalo telah menyatakan ikut bergabung menjadi bagian Negara Indonesia dengan Merah Putih sebagai bendera Negara dan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan negara.

Selepas seluruh pejabat pemerintah kolonial Belanda ditangkap, maka dibentuklah Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang juga terdiri dari 12 orang anggota Komite Dua Belas, dengan Nani Wartabone sebagai Kepala Pemerintahan Gorontalo.

PPPG ini bertujuan untuk menjalankan roda pemerintahan di Gorontalo yang telah ditinggalkan oleh penjajah Belanda.

Peristiwa Patriotik 23 Januari 1942 merupakan momen bersejarah bagi rakyat Gorontalo dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini terjadi tiga tahun lebih awal dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta tahun 1945.

Peristiwa ini juga menunjukkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang tinggi dari rakyat Gorontalo dalam melawan penjajah Belanda.

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa rakyat Gorontalo telah siap untuk berdiri di atas kakinya sendiri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved