Human Interest Story
Aidil Bejati si Tukang Sol Sepatu Cerita Pernah 3 Hari Sepi Orderan, Kuat Demi Anak Bisa Sekolah
Di depan Masjid Al-Hikmah Desa Pentadio Barat Kabupaten Gorontalo, tukang sol sepatu sedang duduk dan menatap kosong ke arah jalanan.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Aidil-tukang-sol-sepatu-sedang-memperbaiki-sepatu-milik-pelanggannya.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Di depan Masjid Al-Hikmah Desa Pentadio Barat Kabupaten Gorontalo, tukang sol sepatu sedang duduk dan menatap kosong ke arah jalanan.
Dia adalah Aidil Bejati. Pria 52 tahun itu rupanya menanti pesanan (order) dari pelanggan.
Kepada TribunGorontalo.com, Aidil mengaku berasal dari Kota Mamuju Sulawesi Barat.
Sebelum merantau ke Gorontalo, Aidil sempat bekerja di Kota Palu Sulawesi Tengah dan Makassar Sulawesi Selatan.
Pada awal tahun 2000, Aidil memutuskan untuk merantau ke Provinsi Gorontalo.
Ia lantas pindah domisili segera setelah menikahi kekasihnya.
"Istri saya asli sini (Gorontalo). Dan alhamdulillah sudah dikaruniai dua anak," timpalnya.
Dua anaknya, perempuan dan laki-laki kini sudah bersekolah.
Si bungsu masih duduk di bangku SD, sedangkan si sulung adalah pelajar SMP.
Biaya pendidikan mahal membuat Aidil bekerja keras. Demi membeli seragam hingga perlengkapan sekolah kedua anaknya itu, ia mengorbankan waktu istirahatnya.
Baca juga: Sepatu Second Branded jadi Favorit Kawula Muda Gorontalo, Merek Jordan dan Dior Paling Laris
Aidil tidak ingin nasib anak-anaknnya seperti dirinya.
Bekerja sebagai tukang sol sepatu itu dimulai sejak 2018. Sebelumnya Aidil berjualan aksesori dan mainan anak-anak.
Namun pandemi covid-19 memaksanya gulung tikar. Ia kehabisan modal jualan hingga menjadi tukang sol sepatu sampai sekarang.
Aidil mangkal di tempat biasa dari pukul 07.00 Wita sampai pukul 17.00 Wita.
Sekali reparasi sol sepatu, tarifnya mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. Semua tergantung jenis dan tingkat kerusakan sepatu.
Jadi tukang sol sepatu tak lantas hidupnya mudah. Untuk makan saja ia mengaku kesulitan.
Bahkan Aidil sampai tiga hari sepi orderan. Namun ia kuat demi anak-anaknya bisa bersekolah.
Aidil punya keinginan merakit mesin jahit sepatu. Tapi itu urung diwujudkan karena keterbatasan modal.
"Bagaimana mau beli mesin? makan saja setengah mati," ujarnya tertawa.