Nasional

Capaian Stabil! Inflasi Indonesia 2023 di Bawah Target, Terendah sejak 2000

Capaian tersebut mencatatkan angka sebesar 2,61 persen (year on year/yoy), menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan dengan realisasi tahun sebelu

Editor: Wawan Akuba
Foto: Humas
Sepanjang 2023 Inflasi Indonesia Terkendali. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Inflasi Indonesia berhasil mencapai kestabilan yang membanggakan pada tahun 2023, tetap terkendali dalam rentang target sasaran 3 persen ±1.

Capaian tersebut mencatatkan angka sebesar 2,61 persen (year on year/yoy), menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 5,51 persen (yoy).

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, prestasi ini tidak terlepas dari kerja sama yang kuat antara berbagai pihak melalui Tim Pengendalian Inflasi Pangan-Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPIP-TPID), terutama dalam mengatasi gejolak harga di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, termasuk gangguan cuaca dari El Nino.

"Inflasi tahun 2023 merupakan yang terendah sejak tahun 2000, mencerminkan koordinasi efektif dalam menghadapi tantangan ekonomi," ungkap Menko Airlangga dalam siaran pers pada Kamis (4/1/2024).

Berdasarkan data Bloomberg, sejumlah negara lain masih berjuang dengan inflasi di atas target, seperti Euro Area, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jerman, Inggris, Rusia, Turki, dan Argentina.

Indonesia, dengan pencapaian 2,61 persen (yoy), terlihat lebih baik dibandingkan dengan negara-negara tersebut.

Pertumbuhan inflasi Desember 2023 dipengaruhi oleh pergerakan semua komponen inflasi. Komponen harga diatur Pemerintah (administered prices/AP) mencatat inflasi sebesar 0,39 persen (mtm) atau 1,72 persen (yoy). Faktor seperti tarif angkutan udara, rokok kretek filter, dan rokok kretek putih menjadi penyumbang inflasi indeks harga konsumen (IHK) Desember 2023.

Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,14 persen (mtm) atau 1,80 persen (yoy). Meskipun mengalami penurunan tren, inflasi inti Indonesia tetap terjaga dan berada di peringkat 10 dari 86 negara menurut catatan Trading Economics.

Peningkatan harga pangan bergejolak (volatile food/VF) sebesar 1,42 persen (mtm) atau 6,73 persen (yoy) dipengaruhi oleh gangguan cuaca akibat El Nino, yang memengaruhi produksi padi dan cabai. Harga beras dan cabai menjadi penyumbang utama inflasi sepanjang 2023.

Pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan pangan dan keterjangkauan harga dengan kebijakan seperti penguatan cadangan beras, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), dan penyaluran bantuan pangan beras.

Hingga 31 Desember 2023, cadangan beras pemerintah (CBP) tetap terjaga sebesar 1,3 juta ton, sementara penyaluran SPHP mencapai 110,3 persen dari target.

Selain itu, program mobilisasi pangan dan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang melibatkan berbagai pihak, seperti Badan Pangan Nasional dan Pemerintah Daerah, terbukti efektif dalam menahan kenaikan harga pangan.

Dalam menghadapi tantangan ke depan, Pemerintah menyatakan komitmennya untuk terus memantau dan mewaspadai fenomena domestik maupun global yang dapat memengaruhi inflasi.

Sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Bank Indonesia diharapkan dapat menjaga inflasi tetap stabil dan terkendali sesuai dengan target yang semakin ketat.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved