Buaya di Kota Gorontalo
Buaya Bukan Hanya Satwa Liar, Tapi juga Simbol Budaya Gorontalo
Warga Gorontalo tidak hanya melihat buaya sebagai predator buas, tetapi juga sebagai simbol budaya.
|
Editor:
Wawan Akuba
istimewa
Seorang pengunjung menuruni tangga adat yang dipasang di depan masjid pada perayaan maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid At Taqwa Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Minggu (24/10/2021). Tangga adat Gorontalo dibuat dari anyaman bambu kuning yang pada sisi kiri dan kanan dipasangi batang bambu yang pada ujungnya dibelah dan diberi gigi menyerupai mulut buaya yang dalam bahasa Gorontalo disebut ngango lo huwayo. Ngango lo huwayo bermakna segala bencana akan ditelan buaya sehingga seluruh pengunjung akan sejahtera. FOTO: Haris
Koordinator Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Gorontalo, Muhammad Luthfi saat dihubungi TribunGorontalo.com, Jumat (15/9/2023) mengatakan bahwa pihaknya telah menurunkan anggota untuk melakukan pemantauan di lokasi.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa terdapat dua ekor buaya di perairan pesisir pantai Leato.
"Setelah dilakukan pemantauan oleh anggota, dalam berapa lama itu sekitar sejam, muncul 2 ekor buaya di perairan di pesisir pantai Leato," katanya melalui sambungan telepon, Jumat (15/9/2023). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1592023_ngango-Lo-Huwayo_buaya.jpg)