Buaya di Kota Gorontalo

Buaya Bukan Hanya Satwa Liar, Tapi juga Simbol Budaya Gorontalo

Warga Gorontalo tidak hanya melihat buaya sebagai predator buas, tetapi juga sebagai simbol budaya.

|
Editor: Wawan Akuba
istimewa
Seorang pengunjung menuruni tangga adat yang dipasang di depan masjid pada perayaan maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid At Taqwa Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Minggu (24/10/2021). Tangga adat Gorontalo dibuat dari anyaman bambu kuning yang pada sisi kiri dan kanan dipasangi batang bambu yang pada ujungnya dibelah dan diberi gigi menyerupai mulut buaya yang dalam bahasa Gorontalo disebut ngango lo huwayo. Ngango lo huwayo bermakna segala bencana akan ditelan buaya sehingga seluruh pengunjung akan sejahtera. FOTO: Haris 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Buaya bukan hanya sekadar satwa liar dan buas, di Gorontalo hewan ini digunakan sebagai simbol budaya.

Dalam bahasa Gorontalo buaya disebut "huwayo". Hewan buas ini kerap dijadikan simbol dalam sebuah prosesi adat. 

Masyarakat Gorontalo menyebut simbol itu sebagai "Ngango Lo Huwayo" atau mulut buaya. 

Hasnidar Pasue mengkaji bentuk Ngango Lo Huwayo ini dalam sebuah penelitian berjudul “Kajian Bentuk Ngango Lo Huwayo Pada Upacara Adat di Gorontalo”.

Penelitian itu diterbitkan pada 2013 lalu sebagai skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Kriya Jurusan Teknik Kriya Fakultas Teknik, Universitas Negeri Gorontalo. 

"Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yaitu untuk mengungkap serta mendeskripsikan obyek dan subyek yang diteliti," tulis Hasnidar dalam skripsinya yang dikutip TribunGorontalo.com, Jumat (15/9/2023). 

Subjek dan objek dalam penelitian ini adalah bentuk ngango lo huwayo pada upacara adat di Bulango Kabupaten Bone Bolango.

Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa bentuk ngango lo huwayo terdapat pada upacara adat penobatan, penyambutan tamu, perkawinan dan pemakaman.

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaan upacara-upacara adat di Gorontalo terdapat kelengkapan adat yaitu gapura adat, tempat persidangan adat dan ngango lo huwayo beserta tangga adatnya (tolitihu).

Ngango lo huwayo diletakkan secara bersamaan dengan tangga adat (tolitihu) di depan pintu masuk ke yiladia (rumah) yang menggelar upacara adat.

"Ngango lo huwayo merupakan kelengkapan adat mutlak di samping tangga adat (tolitihu)," tulisnya. 

Bentuk Ngango lo huwayo ini memiliki makna tertentu. Dengan diletakan di depan pintu masuka sebuah upacara adat, diharapkan segala bencana akan ditelan buaya, sehingga tamu dalam upacara yang hadir bisa berbahagia. 

Sejumlah wilayah yang menjadi habitat buaya di Gorontalo di antaranya Kabuaten Pohuwato, Gorontalo Utara, dan Kabupaten Gorontalo. 

Baru-baru ini, masyarakat Leato Selatan, Kota Gorontalo diimbau untuk berhati-hati menyusul kemunculan buaya di pesisir pantai setempat.

Buaya tersebut pertama kali terlihat pada Kamis (14/9/2023) malam di belakang kantor lurah Leato Selatan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved