Sabtu, 7 Maret 2026

Opini

OPINI: Pemuda Sebagai Agen Moderasi, Haruskah Kita Bangga?

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah menegaskan keseriusannya dalam penerapan program penguatan moderasi beragama. 

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto OPINI: Pemuda Sebagai Agen Moderasi, Haruskah Kita Bangga?
Freepik
Ilustrasi pemuda 

Walhasil, banyak orang yang terpincut dengan ide bahkan mereka patuh dengan setiap arahan Barat, termasuk negeri tercinta kita. 

Pemuda sebagai Agen Moderasi Beragama merupakan sasaran empuk demi tercapainya mega proyek moderasi beragama. 

Ada empat indikator yang menjadi inti gerakan moderasi beragama. yaitu komitmen kebangsaan, kerukunan, antikekerasan, dan kearifan terhadap budaya lokal. 

Secara sistemik, empat indikator utama ini terus dideraskan pada pemuda dengan tujuan menjadikannya sebagai mainstream pergerakan dan pemberdayaan pemuda. 

Selain itu, atas nama pluralismejustru pemuda muslim cenderung membela agama yang lain dibandingkan dengan agamanya sendiri. 

Begitu juga dengan paham re/ativisme membuat pemuda muslim cenderung membiarkan bahkan membela pelaku maksiat seperti contohnya LGBT. 

Atas nama komitmen kebangsaan, kekritisan pemuda muslim dalam berbagai aksi sudah dibatasi, tidak boleh menuntut perubahan sistem, apalagi menawarkan sistem baru atau keinginan untuk mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh (kaffah) yang malah dianggap radikal dan bisa dikriminalisasikan.

Padahal, penyebab utama berbagai kekacauan Negara dikarenakan hukum yang membebaskan manusia membuat aturan sendiri (sekuler).

Disisi lain, bonus demografi pemuda memiliki potensi emas. 

Adalah fakta yang tidak terbantahkan pemuda memiliki peran sentral dalam mengubah kondisi dunia. 

Sosok ideal dengan segudang mimpi dan semangat yang berkobar. 

Pemuda adalah agent of change, idealis, visioner, powerful, inovatif dan kreatif. 

Jika pemuda menyadari potensi dan jati dirinya sebagai pemuda muslim inilah yang akan menjadikan kekuatan besar untuk mewujudkan kembali tegaknya ajaran Islam yang mulia ini. 

Namun, karena Kekhawatiran barat terhadap tegaknya Islam inilah yang melatarbelakangi serangkaian konspirasi, strategi, dan kebijakan politik global yang mencederai dan mendiskriminasi Islam. 

Oleh karenanya, pemuda wajib kritis, segencar apa pun arus moderasi beragama, realitas di lapangan tidak dapat kita dustakan. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved