Jumat, 6 Maret 2026

Opini

OPINI: Pemuda Sebagai Agen Moderasi, Haruskah Kita Bangga?

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah menegaskan keseriusannya dalam penerapan program penguatan moderasi beragama. 

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto OPINI: Pemuda Sebagai Agen Moderasi, Haruskah Kita Bangga?
Freepik
Ilustrasi pemuda 

Menyasar pada pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Juga ramai dilakukan melalui berbagai agenda seperti webinar, seminar, diskusi, konferensi dan sebagainya. Semua kementerian dianggap terutama yang terkait pendidikan dan keagaaman sangat masif mengarusderaskan ide ini. 

Moderasi dianggap berasal dari lslam dengan menyamakannya dengan Islam wasathiyyah

Benarkah demikian? Oleh karenanya, kita perlu memahami apa sebenarnya moderasi beragama dan bagaimana peran kita sebagai pemuda dalam menanggapi ide tersebut. 

Kedua hal tersebut kemudian akan dibahas tuntas dalam artikel singkat ini, Salah Kaprah tentang moderasi para penggagas moderasi beragama seringkali menggunakan ayat tentang Ummatan Wasathan dalam Al-Baqarah 143 sebagai landasan ide moderasi beragama. Firman Allah SWT:

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan (Ummatan Wasathan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS Al-Baqarah: 143).

Ummatan Wasathan tersebut adalah istilah al-Quran yang secara kontekstual sebenarnya tidak ada hubungannya dengan istilah moderasi beragama saat ini, yang sering disandingkan dengan istilah radikalisme atau ekstremisme. 

Untuk membuktikan tidak relevannya ayat tersebut dengan istilah moderasi agama saat ini, kita perlu melihat latar belakang sejarah munculnya istilah moderasi agama itu sendiri. lstilah moderasi agama dapat dilacak bahkan sejak Revolusi Iran tahun 1979, sebagaimana penjelasan Fereydoon Hoveyda, seorang pemikir dan diplomat Iran. 

Fereydoon Hoveyda menegaskan hal itu dalam artikelnya yang terbit tahun 2001 dengan judul, "Moderate /slamist? American Policy Interest," sebuah artikel ilmiah dalam The Journal of National Committee on American Policy.

Menurut Fereydoon Hoveyda, istilah islamic moderation, moderate Muslim, atau lslam moderat mulai banyak digunakan setelah 1979 oleh jurnalis dan akademisi, untuk mendeskripsikan konteks hubungan antara dua hal, yaitu di sisi adalah Muslim, Islam, atau /slamist (aktivis Islam); sedangkan di sisi lain adalah Barat (the West). 

Nah, dalam konteks inilah, muncul istilah moderate /slamist (aktivis Islam moderat), yang dianggap pro Barat khususnya yang pro Amerika Serikat. 

Sebagai lawan dari moderate islamist itu akhirnya diberi label hard-line islamist (aktivis Islam garis keras), yaitu mereka yang menginginkan Islam secara pure (murni) dan menolak ideologi Barat. 

Jadi, kemunculan istilah moderasi agama sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan istilah Ummathan Wasathan dalam al-Quran tersebut, walau þanyak intelektual Muslim yang memaksakan diri untuk mencari-cari relevansinya.

Kenyataannya proyek moderasi berhasil dinarasikan dengan sangat "epik" sebagai jalan tengah yang menyatukan dan membersamakan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Narasi ini memang sangat indah didengar dan secara teoritis begitu elegan, yakni beragama kita tidak boleh terlalu ekstrem, baik ke kiri atau pun kanan. 

Ibarat dagangan, moderasi beragama ini dikemas dengan sangat cantik, dinarasikan dengan sangat indah. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved