Perkemahan Wirakarya Nasional 2023
Pesan Menag Yaqut Kholil Qoumas untuk Peserta Perkemahan Wirakarya Nasional di Gorontalo
Sebanyak kurang lebih 1.200 peserta dari 58 perguruan tinggi UIN, IAIN dan STAIN, beserta empat Madrasah Aliyah Negeri di Gorontalo.
Penulis: Fadri Kidjab | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Perkemahan-Wirakarya-Nasional-Perguruan-Tinggi-Keagamaan-PWN-PTK-2023.jpg)
Salah satu dari kemampuan atau ketrampilan masa depan (future skill) yang harus dimiliki sebagai calon pemimpin millenial.
Seperti cognitive fexibility, digital literacy and computational thinking, creative and innovative mindset, emotional and social intelligence.
Keterampilan ini harus terus-menerus di asah selama proses studi melalui kurikulum pembelajaran maupun berbagai program dan kegiatan kemahasiswaan.
Namun demikian, ada sejumlah tantangan yang dihadapi, yaitu menjamunya paham
intoleransi, radikalisme dan extrimisme, yang dibumbui dengan maraknya berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian.
Baca juga: 1.200 Mahasiswa PTK Se-Indonesia Ikuti Perkemahan Wirakarya Nasional di Gorontalo
Berdasarkan Data yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2019, lanjut dia, menunjukkan fakta bahwa 59,1 persen pelaku terorisme berusia kurang dari 30 tahun.
Kalangan muda usia 17-24 tahun menjadi sasaran utama penyebaran paham radikalisme.
Survey BNPT tersebut juga menunjukan 80 persen generasi muda rentan terpapar radikalisme.
Karena mereka cenderung tidak berpikir kritis. Umumnya generasi muda milenial ini lebih cenderung menelan mentah-mentah arus distribusi informasi dan ideologi.
Sikap intoleran biasanya muncul pada generasi yang tidak berpikir kritis ini menjadi sasaran empuk kelompok radikal.
Sementara itu, pengaruh utama moderasi beragama di Indonesia, masih melalui
jalan berliku bahkan terjal.
Ignifikansi pengaruh utama moderasi beragama paling tidak dilandasi oleh tiga alasan.
Pertama, kehadiran agama untuk menjaga martabat manusia dengan pesan utama rahmah (kasih-sayang).
Kedua, pemikiran keagamaan
bersifat historis, sementara realitas terus bergerak secara dinamis.
Ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dirawat melalui strategi kebudayaan.
Berangkat dari kenyataan tersebut, diskursus moderasi dalam pemahaman teks-teks keagamaan dan praksis social, sangat penting untuk dilakukan.