Perkemahan Wirakarya Nasional 2023
Pesan Menag Yaqut Kholil Qoumas untuk Peserta Perkemahan Wirakarya Nasional di Gorontalo
Sebanyak kurang lebih 1.200 peserta dari 58 perguruan tinggi UIN, IAIN dan STAIN, beserta empat Madrasah Aliyah Negeri di Gorontalo.
Penulis: Fadri Kidjab | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Perkemahan-Wirakarya-Nasional-Perguruan-Tinggi-Keagamaan-PWN-PTK-2023.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Menteri Agama RI, Yaqut Kholil Qoumas membuka secara resmi Perkemahan Wirakarya Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan (PWN PTK) 2023, Senin (22/5/2023).
PWN PTK diikuti kurang lebih 1.200 peserta dari 58 perguruan tinggi UIN, IAIN dan STAIN, beserta empat Madrasah Aliyah Negeri di Gorontalo.
Perkemahan Wirakarya Nasional PTK ke-16 ini mengusung tema 'Merawat Keberagaman dan Perdamaian dalam Bingkai Moderasi Beragama'.
Dalam sambutannya, Menteri Yaqut Kholil Qoumas mengungkapkan bahwa pintar saja tidaklah cukup.
Tetapi harus dilengkapi dengan karakter dan moralitas yang menunjukan keluhuran budi sebagai bekal bersaing di era revolusi 4.0 ini.
Sebagai salah satu pilar pembinaan kaum muda, Gerakan Pramuka dituntut untuk dapat memberikan kontribusi nyata.
Kegiatan kepramukaan dapat menjadi pilihan generasi muda untuk tidak terjebak pada dampak buruk budaya digital.
Seperti kita ketahui bahwa Indonesia juga menjadi salah satu dari empat negara
dengan pengguna internet terbesar di dunia, yaitu mencapai 202,6 juta pengguna
internet.
Di antaranya, 51persen perempuan, 49 persen laki-laki, 49 persen usia 18-25 tahun, dan 33,8 persen usia 26-35 tahun.
170 juta diantaranya adalah pengguna aktif dan militan di media sosial. Hal ini menjadi potensi yang dapat diarahkan menuju hal-hal yang kurang baik dan produktif.
Menurutnya, Gerakan Pramuka berperan penting dan strategis untuk mencetak pemimpin Indonesia masa depan.
Perguruan Tinggi Keagamaan menjadi bagian dari reproduksi calon-calon pemimpin yang akan menentukan wajah bangsa.
Sinergi dan kolaborasi antara Gerakan Pramuka dengan perguruan tinggi menjadi keniscayaan di tengah Indonesia yang sedang berubah dan penuh persaingan.
"Mahasiswa yang sedang berproses pada Perguruan Tinggi Keagamaan harus
mampu membaca tanda-tanda zaman dengan baik," ucap Yaqut Kholil Qoumas.
Mahasiswa harus membekali diri dengan
seperangkat kemampuan untuk bisa berkontestasi di tengah persaingan yang kian terbuka dan kompetitif.