Arti Kata
Mengenal Apa Itu Arcturus, Varian Baru Covid-19 yang Terdeteksi di Indonesia Jelang Lebaran
Jelang Lebaran 2023 masyarakat Indonesia dibuat khawatir dengan kemunculan varian baru Covid-19 yakni Arcturus atau XBB 1.16 yang berasal dari India.
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/23112022_Covid-19.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Hari Raya Idul Fitri 2023 atau Lebaran 1444 H sebentar lagi akan dirayakan masyarakat muslim dunia termasuk di Indonesia.
Namun menjelang perayaan Lebaran, kasus positif Covid-19 kembali meningkat di beberapa wilayah menyusul munculnya varian baru Arcturus yang kini telah terdeteksi di Indonesia.
Apa Itu Arcturus Covid-19?
Dilansir TribunGorontalo.com dari Prevention, Varian Arcturus atau XBB 1.16 adalah subvarian Covid-19 dari Omicron dan bagian dari kelas baru subvarian XBB.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Kraken, Subvarian Covid-19 Baru yang Disebut WHO Jadi Varian Paling Menular
Varian Arcturus menyebar dengan cepat di India dan negara lainnya.
Menurut WHO, XBB.1.16 merupakan rekombinan dari BA 2.10.1 dan BA 2.75 dan berbagi mutasi dengan XBB 1.5.
Mutasi varian baru ini telah dikaitkan dengan tanda-tanda peningkatan penularan dan tingkat infeksi yang lebih tinggi.
Pada 27 Maret, urutan XBB.1.16 telah dilaporkan dari 21 negara.
Tetapi, sejauh ini laporan tidak menunjukkan peningkatan rawat inap, masuk ICU, atau kematian akibat XBB 1.16.
Baca juga: Apa Itu Omicron XBB? Subvarian Baru Covid-19 yang Sudah Masuk ke Indonesia, Disertai Gejala Pasien
Seberapa menular Arcturus?
Tampaknya, karena mutasinya pada protein lonjakan, varian Arcturus lebih menular dan menyebabkan beberapa penyebarannya di India, kata Dr. Willaim Schaffner, M.D., spesialis penyakit menular dan profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt.
Tetapi, “Tampaknya tidak menimbulkan penyakit yang lebih parah, jadi untuk saat ini merupakan varian minat dan bukan varian kekhawatiran,” jelasnya.
Varian ini juga kemungkinan lebih mampu menghindari kekebalan sebelumnya dari infeksi sebelumnya, (sekali lagi, karena menunjukkan mutasi pada protein lonjakan) menjadikannya lebih menular daripada varian sebelumnya.
Baca juga: Mengenal Apa Itu AWCorna, Vaksin Covid-19 Produksi dalam Negeri yang Diprioritaskan Penggunaannya
Gejala Arcturus
Terdapat tren yang lebih tinggi dari gejala XBB 1.16 atau Arcturus berikut ini antara lain:
- Demam lebih tinggi pada mereka yang terinfeksi
- Beberapa kasus konjungtivitis, terutama pada anak-anak
Namun, sebagian besar gejala Covid-19 yang Anda kenal juga merupakan gejala dari varian Arcturus ini.
Baca juga: Mengenal Apa Itu IndoVac, Vaksin Covid-19 yang Dipakai Jokowi untuk Vaksinasi Booster Kedua
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC), gejala Covid-19 yang paling umum masih:
- Demam atau menggigil
- Batuk
- Sesak napas atau kesulitan bernapas
- Kelelahan
- Nyeri otot atau tubuh
- Sakit kepala
- Kehilangan rasa atau bau baru
- Sakit tenggorokan
- Hidung tersumbat atau pilek
- Mual atau muntah
- Diare
Baca juga: KTT G20 Setujui Pandemic Fund Senilai Rp 481 Triliun yang Diusulkan Jokowi, Apa Itu Pandemic Fund?
Varian Baru Covid-19 Arcturus di Indonesia
Dikutip TribunGorontalo.com dari laman resmi kemkes.go.id pada Selasa (18/4/2023), dikabarkan bahwa kasus Covid-19 subvarian Arcturus bertambah.
Pada Senin (17/4/2023), Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Mohammad Syahril mengumumkan tambahan kasus Covid-19 subvarian Arcturus atau XBB 1.16 yakni terdapat 5 kasus tambahan sehingga total mencapai 7 kasus.
“Semua pasien sudah sembuh, ada 5 kasus 2 dari Surabaya 3 ada di Jakarta. Alhamdulillah semuanya membaik dengan gejala yang ringan,” kata Syahril.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Howitzer TRF-1, Senjata Prancis yang Ditembakkan Ukraina ke Jalur Pasokan Rusia
Subvarian Arcturus masih dalam status under monitoring, tidak termasuk variant of concern.
Syahril menyebutkan bahwa adanya sub varian baru biasanya telah terjadi kenaikan kasus di negara lain, dari 29 negara ada sejumlah negara yang melaporkan kasus terbanyak antara lain India, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia.
“Ini (subvarian Arcturus) asal mulanya dari India itu sangat banyak. Untuk Indonesia kalau kita melihat dalam satu minggu terakhir ada memang kenaikan kasus dan sudah ditemukan dua kasus di awal pada tanggal 5 April, dan hari ini kita umumkan ditambah 5 jadi 7 kasus,” papar Syahril.
Baca juga: Apa Itu Fomepizole? Obat Penawar Gagal Ginjal Akut yang Bakal Dibagikan Pemerintah Gratis
Walaupun terjadi kenaikan kasus, namun angka kematian masih belum melebihi batas yang disyaratkan oleh WHO yaitu saat di bawah 1/100.000 penduduk. Kemudian pasien yang dirawat masih belum di atas 5/100.000 penduduk.
“Jadi ini parameter-parameter walaupun terjadi kenaikan tapi masih menunjukkan angka-angka di bawah standar WHO itu masih stabil. Ini menjadi catatan kita semua sebagaimana peringatan WHO bahwasanya pandemi masih ada dan kemungkinan akan terjadi kenaikan kasus karena sumber varian baru,” jelas Syahril.
Syahril pun mengimbau agar masyarakat tetap waspada.
Baca juga: Apa Itu Etilen Glikol? Senyawa Kimia di Obat Sirup yang Diduga Sebabkan Gagal Ginjal Akut Anak
Gejala dari subvarian baru ini hampir sama dengan gejala Covid-19 sebelumnya, yakni, batuk, flu, demam, dan nyeri tenggorokan.
Tetapi sejumlah negara ada yang melaporkan gejala khas berupa mata kemerahan atau konjungtivitas dan ada kotoran.
Tak hanya Covid-19, penularan penyakit lain pun harus diwaspadai sehingga masyarakat perlu memakai masker.
Pemakaian masker direkomendasikan untuk orang-orang yang merasa sakit seperti batuk flu dan buat mereka yang akan berdekatan dengan orang-orang yang sedang sakit.
Baca juga: Kemenkes Tetapkan KLB Polio Susul Kasus di Aceh, Apa Itu Polio? Kenali Gejala dan Bahayanya
Tak hanya itu, untuk meningkatkan pencegahan, pemerintah menganjurkan masyarakat melakukan tes cepat antigen mandiri.
Terdapat 2 produk yaitu produk dalam negeri dengan kode AKD dan produk luar negeri dengan kode AKL.
Produk tersebut dapat diperoleh di toko alat kesehatan, apotek atau tempat lain yang ada izin distribusi alat kesehatannya.
Tes cepat antigen mandiri ini menggunakan metode nasal yaitu hanya memasukan alat melalui hidung.
Tata caranya sudah tersedia petunjuk penggunaan pada produk.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Stiff Person Syndrome, Penyakit Langka Celine Dion, Simak Gejala dan Bahayanya
Setelah melakukan colok idung selanjutnya melakukan pindai kode QR yang ada pada produk melalui aplikasi SatuSehat.
Apabila hasilnya positif harus ditindak lanjut dengan PCR.
Tes cepat antigen mandiri ini bisa mendeteksi dini virus Covid-19. Selanjutnya akan mudah melakukan pencegahan atau pengobatan.
Sebagai informasi, Kemenkes RI mencatat bahwa per tanggal 17 April 2023, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah sebanyak 725 pasien terkonformasi.
Sehingga kasus aktif Covid-19 per hari Senin kemarin ialah 9.024 pasien.
(TribunGorontalo.com/Nina Yuniar)