gempa
Gempa Turki, Erdogan Akui Penyelamatan tidak Sesuai Harapan, Korban Tewas Lampaui 22 Ribu
Erdogan juga menerima kecaman dari para penyintas gempa Turki. Hal itu karena kurangnya tim penyelamat di lapangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-reruntuhan-pasca-gempa-Turki-dan-Suriah.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk pertama kalinya, Jumat (10/2/2023) mengakui jika penyelamatan gempa Turki tidak secepat harapan.
Erdogan juga menerima kecaman dari para penyintas gempa Turki. Hal itu karena kurangnya tim penyelamat di lapangan.
Data terbaru, korban tewas akibat gempa Turki berkekuatan 7,8 SR pada Senin (6/2/2023) telah melampaui 22.000 di seluruh Turki tenggara dan sebagian Suriah. Hampir 19.000 dari kematian itu terjadi di Turki.
Erdogan mengulangi pengakuan sebelumnya bahwa ada "kekurangan" dalam tanggapan pemerintahnya.
“Begitu banyak bangunan yang rusak sehingga sayangnya, kami tidak dapat mempercepat intervensi kami secepat yang kami inginkan,” kata Erdogan saat berkunjung ke kota Adiyaman di selatan yang terkena dampak paling parah.
Dia mengatakan penyelamat terkendala badai musim dingin.
Kendala inilah yang membuat beberapa daerah tidak bisa dilewati.
Dia menambahkan bahwa Turki sekarang telah mengumpulkan "mungkin tim pencarian dan penyelamatan terbesar di dunia" yang terdiri dari 141.000 orang di 10 provinsi yang terkena dampak.
Pemimpin Turki itu juga membalas kritiknya menjelang pemilihan umum yang direncanakan pemerintah pada 14 Mei.
Pemimpin oposisi sekuler, Kemal Kilicdaroglu minggu ini menyalahkan sejumlah besar bangunan yang roboh.
Ia menyebut, bangunan-bangunan ini mudah roboh karena tidak mengikuti kode konstruksi yang tepat.
Namun, kritikan itu dibalas dengan sinir oleh Erdogan. Ia menyebut oposisi adalah "oportunis yang ingin mengubah rasa sakit ini menjadi keuntungan politik mereka".
Dia juga berjanji untuk membangun kembali wilayah yang rusak dalam waktu satu tahun. (*)