Imlek Gorontalo
Berdiri Sejak 1800-an, Kelenteng Tulus Harapan Kita Kerap Ramai Setiap Imlek Gorontalo
Karena itu, tidak jarang masyarakat menyebut kunjungannya Kelenteng Tulus Harapan Kita sebagai wisata budaya (culture tourism).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2212023_Tionghoa_Kelenteng_Beribadah_Gorontalo.jpg)
Tidak mudah untuk para imigran itu membangun kelenteng. Mereka membangunnya perlahan dengan mengumpulkan uang dari sesama etnis Tionghoa.
“Setiap malam, leluhur kami berkumpul di tepi Sungai Bolango. Mereka membincangkan kehidupan sehari-hari, termasuk kebutuhan untuk beribadah,” kata Maryam.
Kini, jika dihitung usia Kelenteng Tulus Harapan Kita telah berusia 196 tahun di 2023 ini. Meski di usia yang nyaris 200 tahun itu, Kelenteng Tulus Harapan Kita masih kokoh berdiri.
Jadi Tempat Ibadah Tiga Kepercayaan
Kelenteng Tulus Harapan Kita jadi tempat ibadah etnis Tionghoa dari tiga kepercayaan. Karena itu disebut Kelenteng Tridharma.
Dalam budaya Tionghoa, Tridharma meliputi Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme (Kong Hu Cu).
Tridharma adalah bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme ketiga filsafat. Inilah yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu.
Disebutkan istilah Tridharma atau dalam bahasa China disebut San Jiao sudah muncul sejak Dinasti Donghan atau pada abad I.
Baca juga: Perayaan Imlek Gorontalo Dijaga 115 Personel Polresta
Pada masa itu, tiga ajaran ini memang tidak bisa menyatu. Hubungannya selalu renggang. Karena itu, berbagi usaha dilakukan untuk menyatukan tiga ajaran itu.
Jika pernah menonton film Kera Saki, artinya kita pernah menyaksikan bagaimana Tridharma ini menyatu.
Cerita si kera sakti Sun Go Kong sangat kental bernuansa Taoisme (ilmu gaib, roh dan siluman, berbagai simbol Taoisme), tetapi kisahnya menceritakan perjalanan Biksu Tang Xuanzang (Fujian/Hokkian: Tong Sam Cong ke India untuk mengambil Kitab Suci Buddhis.
Sedangkan penulisnya adalah Wu Cheng'en, adalah seorang sastrawan Konfusianis. Pengaruh ketiga ajaran sudah bercampur sedemikian rupa sehingga sebelum Tahun 1949, setiap kegiatan masyarakat China daratan berpedoman rambu-rambu San Jiao. (*)