Imlek Gorontalo
Berdiri Sejak 1800-an, Kelenteng Tulus Harapan Kita Kerap Ramai Setiap Imlek Gorontalo
Karena itu, tidak jarang masyarakat menyebut kunjungannya Kelenteng Tulus Harapan Kita sebagai wisata budaya (culture tourism).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2212023_Tionghoa_Kelenteng_Beribadah_Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Berkunjung ke Kelenteng Tulus Harapan Kita menjadi agenda warga di setiap momen Imlek Gorontalo.
Kelenteng ini berdiri di pusat kota. Tepatnya di Jalan S Parman, Kelurahan Biawao, Kota Selatan Gorontalo.
Warga biasanya menunggu momen Imlek Gorontalo karena bisa melihat aktivitas para etnis Tionghoa dalam beribadah.
Karena itu, tidak jarang masyarakat menyebut kunjungannya Kelenteng Tulus Harapan Kita sebagai wisata budaya (culture tourism).
Baca juga: Gorontalo Kemarin: Peluang 4 Pasangan Pilpres dan Etnis Tionghoa Sambut Imlek Gorontalo
Baca juga: Perayaan Imlek Gorontalo Dijaga 115 Personel Polresta
Sebab, masyarakat Gorontalo yang mayoritas beragama Islam, bisa melihat kebudayaan, adat istiadat, seni budaya, serta cara beribadah etnis Tionghoa.
“Ya dan kami bisa menyaksikan itu di kelenteng ini,” ungkap Rahman Sanusi, warga Gorontalo yang menyaksikan prosesi sembahyang warga Tionghoa di Kelenteng Tulus Harapan Kita, Sabtu (21/1/2023).
Rahman bahkan ikut mengabadikan sejumlah potret kelenteng beserta warga Tionghoa yang sedang sembahyang.
Hal yang paling disukai oleh Rahman adalah mengetahui istilah-istilah baru dalam bahasa China. Istilah ini semakin menambah wawasannya akan kebudayaan di dunia.
“Ya tadi kita jadi tahu soal dewa-dewa dalam kepercayaan Tionghoa. Lalu ada istilah baru yang itu menambah pengetahuan saya,” katanya.
Kelenteng Tulus Harapan Kita atau juga disebut Kelenteng Thian Hou Kiong. Posisinya strategis, berada di bibir Sungai Bolango yang mengalir dari wilayah Tapa, Bone Bolango.
• Ramalan 12 Shio di Tahun Baru Imlek 2023: Bagaimana Cinta dan Keuangan Shio Kelinci?
Kelenteng ini dibangun sejak tahun 1827 oleh para imigran China. Rata-rata mereka berasal dari Hokkian dan Kanton.
Kelenteng berdiri di tengah pertokoan milik para warga Tionghoa atau China. Wilayah Kelurahan Biawao ini memang lebih banyak ditinggali orang-orang keturunan etnis Tionghoa.
Seorang keturunan Tionghoa yang sudah sepuh bernama Maryam Lamadilaw (75) mengungkapkan, bahwa pembangunan Kelenteng Tulus Harapan Kita adalah ide para leluhurnya.
Dulu, para leluhurnya itu kerap menghabiskan waktu di bibir Sungai Bolango. Percakapannya soal pekerjaan dagang mereka.
Suatu hari, mereka kemudian mulai membahas tempat yang nyaman untuk beribadah. Dari hasil kongko-kongko di bibir sungai itulah, lantas para imigran Tionghoa saat itu membangun Kelenteng.
Baca juga: Kelenteng Perayaan Imlek Gorontalo Nyaris Berusia 200 Tahun, Dibangun Atas Patungan
Tidak mudah untuk para imigran itu membangun kelenteng. Mereka membangunnya perlahan dengan mengumpulkan uang dari sesama etnis Tionghoa.
“Setiap malam, leluhur kami berkumpul di tepi Sungai Bolango. Mereka membincangkan kehidupan sehari-hari, termasuk kebutuhan untuk beribadah,” kata Maryam.
Kini, jika dihitung usia Kelenteng Tulus Harapan Kita telah berusia 196 tahun di 2023 ini. Meski di usia yang nyaris 200 tahun itu, Kelenteng Tulus Harapan Kita masih kokoh berdiri.
Jadi Tempat Ibadah Tiga Kepercayaan
Kelenteng Tulus Harapan Kita jadi tempat ibadah etnis Tionghoa dari tiga kepercayaan. Karena itu disebut Kelenteng Tridharma.
Dalam budaya Tionghoa, Tridharma meliputi Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme (Kong Hu Cu).
Tridharma adalah bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme ketiga filsafat. Inilah yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu.
Disebutkan istilah Tridharma atau dalam bahasa China disebut San Jiao sudah muncul sejak Dinasti Donghan atau pada abad I.
Baca juga: Perayaan Imlek Gorontalo Dijaga 115 Personel Polresta
Pada masa itu, tiga ajaran ini memang tidak bisa menyatu. Hubungannya selalu renggang. Karena itu, berbagi usaha dilakukan untuk menyatukan tiga ajaran itu.
Jika pernah menonton film Kera Saki, artinya kita pernah menyaksikan bagaimana Tridharma ini menyatu.
Cerita si kera sakti Sun Go Kong sangat kental bernuansa Taoisme (ilmu gaib, roh dan siluman, berbagai simbol Taoisme), tetapi kisahnya menceritakan perjalanan Biksu Tang Xuanzang (Fujian/Hokkian: Tong Sam Cong ke India untuk mengambil Kitab Suci Buddhis.
Sedangkan penulisnya adalah Wu Cheng'en, adalah seorang sastrawan Konfusianis. Pengaruh ketiga ajaran sudah bercampur sedemikian rupa sehingga sebelum Tahun 1949, setiap kegiatan masyarakat China daratan berpedoman rambu-rambu San Jiao. (*)