Arti Kata
BPOM Siapkan Regulasi Pelabelan BPA dalam Kemasan Air Minum dan Makanan, Apa Itu BPA?
BPOM kaji pelabelan pada produk kemasan air minum dan makanan yang berpotensi mengandung BPA, simak pengertian hingga efek dari bahan kimia tersebut.
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ilustrasi-galon.jpg)
Sejarah
BPA pertama kali disintesis pada tahun 1891, oleh ahli kimia Rusia Aleksandr P. Dianin, yang menggabungkan fenol dengan aseton dengan adanya katalis asam untuk menghasilkan bahan kimia tersebut.
Pada tahun 1950-an para ilmuwan menemukan bahwa reaksi BPA dengan fosgen (karbonil klorida) menghasilkan resin keras bening atau polikarbonat, yang banyak digunakan dalam pembuatan plastik.
Plastik polikarbonat BPA sangat kuat dan stabil.
Baca juga: Mengenal Apa Itu IndoVac, Vaksin Covid-19 yang Dipakai Jokowi untuk Vaksinasi Booster Kedua
Mereka dapat menahan paparan suhu tinggi, memungkinkan mereka untuk menahan pemanasan dalam oven microwave, dan dapat menahan benturan yang berdampak tinggi.
Ini menjadikannya sangat berharga sebagai komponen peralatan keselamatan, termasuk kacamata keselamatan, pelindung wajah, helm sepeda motor, dan jendela tahan peluru.
Sebagai komponen resin epoksi dalam lapisan pelindung, seperti yang melapisi permukaan bagian dalam kaleng, BPA membantu memperpanjang masa simpan produk makanan dan minuman.
Baca juga: Apa Itu Fomepizole? Obat Penawar Gagal Ginjal Akut yang Bakal Dibagikan Pemerintah Gratis
Ketahanan plastik BPA telah menyebabkan penggunaannya dalam perangkat medis seperti mesin jantung-paru, inkubator, ginjal buatan (hemodialyzer), serta sealant dan pengisi gigi.
Selain itu, bobotnya yang ringan serta kejernihan optik membuatnya sangat berguna untuk kacamata.
Bahan kimia ini juga ditemukan di berbagai produk lain, termasuk cakram padat dan kuitansi kertas.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Solstis, Fenomena yang Dikaitkan Mitos Gola Gorontalo dan Larangan Keluar Rumah
Efek Bologis dari BPA
Meskipun pada akhir abad ke-20 BPA menemukan penggunaan terluasnya dalam plastik, pada tahun 1930-an para ilmuwan telah mengembangkannya sebagai estrogen sintetik dan mencatat kemungkinan sifat karsinogenik (penyebab kanker).
Signifikansi perilaku estrogeniknya muncul kembali pada awal 1990-an ketika sebuah tim yang dipimpin oleh ahli endokrin Amerika David Feldman secara tak terduga menemukan BPA dalam media pertumbuhan dalam labu polikarbonat yang digunakan untuk membiakkan sel ragi.
Para ilmuwan melanjutkan untuk mengisolasi BPA dari sampel air yang telah diautoklaf (disterilkan pada suhu dan tekanan yang sangat tinggi) di dalam labu.
Baca juga: Video Viral Teror Gola Gorontalo Bikin Heboh Jagat Maya, Apa Itu Gola? Begini Kata Polisi
Dengan maksud memastikan bahwa bahan kimia yang telah mereka deteksi sebelumnya dalam kultur ragi sebenarnya berasal dari plastik yang digunakan untuk membuat termos.