Miss Grand Venezuela
Biliu dan Paluwala, Pakaian Adat Gorontalo Khusus Pengantin
Pakaian adat dan budaya Gorontalo khusus pengantin perempuan disebut Biliu, sementara untuk pengantin laki-laki disebut Paluwala.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sesuai adat dan budaya Gorontalo, pengantin biasanya mengenakan pakaian yang khas. Tidak sembarangan, sebab pakaian ini mengandung makna yang dalam.
Dalam budaya Gorontalo, pakaian adat terutama untuk pengantin memiliki nama yang berbeda.
Pakaian adat dan budaya Gorontalo khusus pengantin perempuan disebut Biliu, sementara untuk pengantin laki-laki disebut Paluwala.
Baru-baru ini, Luiseth Materan, Miss Grand Venezuela 2022 salah menggunakan pakaian adat Gorontalo saat berkunjung ke Kedutaan Besar RI (KBRI) Caracas pada 15 September 2022.
Baca juga: Keliru Pakai Biliu, Miss Grand Venezuela Disebut Bisa Kena Hukum Adat Gorontalo
Baca juga: Foto-foto Kontroversi Miss Grand Venezuela 2022 Luiseth Materan Pakai Pakaian Adat Gorontalo
Ia menggunakan Biliu berwarna ungu. Namun sayangnya, tudung yang digunakannya sebetulnya khusus untuk pria, disebut tudung Makuta.
Lalu, apa perbedaan Biliu dan Paluwala?
1. Biliu

Pada dasarnya, saat hari pernikahan dalam adat Gorontalo, perempuan dan laki-laki akan duduk bersanding di pelaminan.
Keduanya akan mengenakan Biliu dan Paluwala dengan tudung Makuta.
Jika ditilik berdasarkan sejarahnya, Biliu sebetulnya sudah digunakan sejak dulu kala. Pakaian ini digunakan oleh permaisuri Raja yang disebut Mbu’i.
Ditinjau dari kata, Biliu berasal dari kata Biluwato artinya yang diangkat dengan kemuliaan. Biasanya, permaisuri raja disebut ti Mbu’i Biluwato yang berarti ratu yang dimuliakan.
Baca juga: Jangan Salah, Ini Arti Warna Pakaian Adat dalam Budaya Gorontalo
Baca juga: 45 Anggota PPK Se-Kota Gorontalo Resmi Dilantik, Masing-masing Gunakan Pakaian Adat Gorontalo
Pemberian gelar dimuliakan ini, karena seorang ratu memang bersanding dengan raja yang dalam bahasa Gorontalo disebut Olangio.
Dibandingkan pakaian adat Gorontalo khusus pengantin laki-laki, Biliu termasuk yang paling banyak aksesoris. Total ada 8 aksesoris dalam Biliu.
Baya lo boute -- Merupakan ikat kepala yang dikenakan untuk pengantin wanita. Ikat kepala ini melambangkan suatu simbol ikatan. Seorang wanita akan mempunyai ikatan pernikahan dengan pria. Serta harus memenuhi suatu kewajiban sebagai seorang istri.
Tuhi – tuhi -- Aksesoris kepala ini merupakan gafah yang berjumlah 7 buah. Tuli – tuli tersebut sekaligus menjadi simbol dari kerajaan yang terdapat di gorontalo. 7 kerajaan tersebut mempunyai hubungan kekerabatan yang erat tanpa adanya suatu perselisihan apapun. 7 kerajaa tersebut antara lain, Limboto, Gorontalo, Tuwawa, Hulonthalo, Limitu, Bulonga, dan Atinggola.
Lai – lai -- Aksesoris ini diletakkan tepat di ubun – ubun, aksesoris merupakan aksesoris yang wajib dalam baju adat Gorontalo. Baik untuk tradisional dan baju adat Gorontalo modern, tidak terlepas dari aksesoris ini. Sebab lai – lai mempunyai arti yang cukup dalam, yaitu budi luhur, kesucian dan keberanian.
Buohu walu wawu dehu -- Merupakan sebuah kalung emas atau perak yang berwarna keemasan. Namun pada pakaian anak anak, tidak menggunakan aksesoris ini. Sebab aksesoris ini mempunyai arti ikatan keluarga yang akan terjalin antara keluarga pengantin pria dan wanita.
Kecubu atau lotidu -- Lotidu diletakkan pada dada pengantin wanita, simbol dari kecubu ini adalah kekuatan yang harus dimiliki seorang istri. Dalam adat gorontalo, seorang wanita harus kuat dalam menghadapi kerasnya kehidupan dan berbagai macam rintangan.
Baca juga: Dua Budaya Gorontalo yang Terancam Punah, Ada Dulialo dan Dembulo, Apa itu?
Etango -- Etango merupakan sebuah ikat pinggang yang memiliki motif menyerupai kecubu. Etango juga menjadi simbol akan kewajiban bagi seorang istri. Salah satu kewajiban istri yang paling utama adalah tidak memasak makanan haram dan harus sesuai dengan syariat islam. Serta harus mempunyai sifat sederhana dan menerima.
Pateda -- Aksesoris ini adalah sebuah gelang yang memiliki ukuran cukup lebar dan berwarna keemasan. Gelang ini mempunyai arti sebagai benteng bagi wanita. Seorang wanita harus dapat membentengi dan mengendalikan diri sendiri dari perbuatan tercela dan melanggar hukum adat maupun pemerintah.
Loubu (kuku) -- Aksesoris loubu ialah aksesoris yang dikenakan pada jari kelingking dan jari manis. Baik jari tangan kanan maupun kiri dilengkapi dengan loubu. Arti dari aksesoris ini adalah sebuah ketelitian yang harus diperhatikan seorang wanita dalam mengerjakan kegiatan apapun.
2. Paluwala

Sementara untuk pakaian laki-laki, disebut Paluwala. Menurut literatur dalam laman resmi Kemendikbud, Paluwala adalah pakaian raja atau olongio.
Tudung makuta -- Adalah sebuah hiasan kepala yang berbentuk mirip dengan bulu ungas. Tudung makuta merupakan hiasan tutup kepala yang menjadi suatu keunikan pakaian adat Gorontalo.
Bentuk dari tutup kepala ini terkulai kebelakang dan menjulang tinggi. Tudung makuta juga disebut dengan laapia bantali sibii.
Baca juga: Amongo Sebagai Budaya Gorontalo Masuk Warisan Indonesia
Aksesoris kepala pria ini melambangkan filosofi dari sifat seorang suami yang sesuai adat Gorontalo. Dalam adat Gorontalo seorang suami merupakan pemimpin keluarga, sehingga harus memiliki jiwa kepemipinan yang tinggi, berwibawa dan tegas. Namun seorang suami juga harus memilki sifat yang lembut dibalik kewibawaannya.
Bako -- Kalung dalam baju adat Gorontalo pria disebut dengan bako. Warna dari kalung ini juga kuning keemasan. Sedangkan untuk makna dari bako yang dikenakan pria ini simbol suatu ikatan. Hal ini berarti seorang pria yang memilki ikatan pernikahan dengan seorang wanita.
Pasimeni -- Pasimeni hanyalah sebuah hiasan tambahan yang terdapat pada baju. Hiasan ini melambangkan keadaan di dalam kehidupan rumah tangga. Sebuah rumah tangga seharusnya memiliki keadaan yang harmonis dan damai serta tanpa adanya suatu perkelahian yang menimbulakan keretakan rumah tangga.
Tidak cuma banyaknya aksesoris, pakaian adat Gorontalo juga memiliki warna bermacam-macam. Ada setidaknya tujuh warna pakaian adat pengantin Gorontalo. (*)