Sabtu, 14 Maret 2026

Presiden Real Madrid Florentino Perez dan Socios Hening Cipta untuk Korban Stadion Kanjuruhan

Presiden Real Madrid, Florentino Perez dan para Socios mengheningkan cipta saat rapat umum, untuk menghormati para korban kerusuhan

Tayang:
zoom-inlihat foto Presiden Real Madrid Florentino Perez dan Socios Hening Cipta untuk Korban Stadion Kanjuruhan
Twitter
Presiden Real Madrid, Florentino Perez mengajak Socios untuk mengheningkan cipta untuk menghormati korban tragedi di Stadion Kanjuruhan. 

Namun pada 6 Juni 1985, FIFA menambahkan hukuman larangan bermain tersebut berlaku untuk kompetisi di seluruh dunia.

Tetapi hukuman itu dimodifikasi sepekan kemudian bahwa mereka mengizinkan klub Inggris melakukan laga persahabatan di luar Eropa.

Baca juga: Terancam Sanksi FIFA: Melebihi Tragedi Haysel, Puasa Bola Lebih 5 Tahun

Pada Desember 1985, FIFA mengumumkan bahwa klub Inggris bisa memainkan laga persahabatan di Eropa, meski pemerintah Belgia melarang klub Inggris bermain di negaranya.

Bukan tak mungkin, FIFA juga akan memberikan hukuman ke klub Indonesia, mengingat banyaknya korban jiwa yang muncul atas kericuhan tersebut.

Tragedi ini pun melebihi jumlah korban dari Tragedi Heysel pada 29 Mei 1985, dalam laga final Liga Champions antara Liverpool dan Juventus.

Kala itu, tembok stadion Heysel runtuh dan menyebabkan 39 orang meninggal dunia.

FIFA menjatuhkan hukuman larangan tampil di kompetisi antarklub Eropa kepada klub Inggris selama lima tahun.

Dalam kerusuhan laga Arema FC vs Persebaya Surabaya semalam, juga ada pelanggaran yang terjadi. Keputusan pihak kepolisian menembakkann gas air mata sudah melanggar aturan FIFA. Semua itu tercantum dalam pedoman “FIFA Stadium Safety and Security Regulation”.

Polisi menembakan gas air mata saat rusuh di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. FIFA (Asosiasi Sepak Bola Internasional) melarang penggunaan gas air mata, membawa tameng dan peralatan lainnya dalam pengamanan sepak bola.
Polisi menembakan gas air mata saat rusuh di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. FIFA (Asosiasi Sepak Bola Internasional) melarang penggunaan gas air mata, membawa tameng dan peralatan lainnya dalam pengamanan sepak bola. (Kolase TribunGorontalo.com)

Yunus Nusi yakin bahwa AFC dan FIFA tidak akan mengambil keputusan yang merugikan Indonesia.

PSSI bertindak setelah insiden Kanjuruhan yang menewaskan ratusan korban jiwa. Tragedi itu terjadi pada 1 Oktober, selepas laga antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, pada pekan 11 Liga 1 2022/23.

Kericuhan terjadi setelah suporter Arema masuk ke dalam lapangan selepas pertandingan. Terjadi keributan antara suporter dan aparat, dan penembakkan gas air mata menjadi puncak dari kejadian nahas ini.

Baca juga: Real Madrid Siapkan Kontrak Baru Eder Militao: Klausul Rilis 1 Miliar Euro

Dengan banyaknya korban jiwa, setidaknya 130 jiwa sesuai laporan Polri, maka Indonesia harus was-was dengan perhatian FIFA dan AFC, yang bisa mencabut status tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, hingga sanksi.

Dalam sesi jumpa pers yang digelar PSSI, sekretaris jenderal Yunus Nusi membeberkan, bahwa pihaknya terus berkomunikasi dengan FIFA dan AFC. Menurut Yunus, induk sepakbola dunia itu tak akan mengambil sikap buru-buru.

"Kami selalu sampai dengan hari ini membangun komunikasi dengan FIFA, tentu kami berharap bahwa ini tidak menjadi rujukan bagi FIFA untuk mengambil keputusan yang tidak baik untuk Indonesia dan PSSI," ucap Yunus dikutip dari goal. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved