Presiden Real Madrid Florentino Perez dan Socios Hening Cipta untuk Korban Stadion Kanjuruhan
Presiden Real Madrid, Florentino Perez dan para Socios mengheningkan cipta saat rapat umum, untuk menghormati para korban kerusuhan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Presiden-Real-Madrid-Florentino-Perez-dan-Socios.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Presiden Real Madrid, Florentino Perez dan para Socios mengheningkan cipta saat rapat umum, untuk menghormati para korban kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (01/10/2022).
"Saya ingin memperingati para korban tragedi yang terjadi dalam beberapa jam terakhir, di sebuah stadion di Indonesia, dimana lebih dari seratus orang telah kehilangan nyawa mereka. Belasungkawa kami yang terdalam untuk semua keluarga mereka," kata Florentino Perez melalui Real Madrid TV.
Pernyataan Florentino Perez itu sontak menuai pujian dari kalangan penggemar Real Madrid di Indonesia.
"Respect Opa Perez," kata Arnum Wijayanti.
"Opa Perez berkomentar ini mah rill (real) indo sedang tidak baik-baik saja," ucap Ardyan.
Diketahui, Sepak bola Indonesia terancam sanksi berat dari FIFA pascatragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 129 orang. Satu di antaranya ancaman dicabutnya status tuan rumah untuk Piala Dunia U-20 2023.
Tragedi di Stadion Kanjuruhan melanggar beberapa poin seperti di FIFA Disciplinary Code, soal ketertiban dan keamanan di pertandingan.
Apalagi, kericuhan seusai kekalahan Arema FC dari Persebaya Surabaya 2-3, Sabtu (1/10/2022) malam, menggunakan gas air mata oleh polisi yang telah melanggar regulasi FIFA.
Sebelumnya FIFA pernah menjatuhkan hukuman berat terhadap klub Inggris ketika terjadinya Tragedi Heysel.
Tragedi Haysel terjadi pada 29 Mei 1985, ketika Juventus akan menghadapi Liverpool pada final Kejuaraan Eropa yang sekarang dikenal sebagai Liga Champions.
Kedua tim akan melakoni pertandingan di Stadion Heysel, Brussels, Belgia.
Insiden itu terjadi para pendukung Liverpool melanggar pagar yang memisahkan dua kelompok supporter dan menyerang pendukung Juventus hingga meruntuhkan dinding Stadion Heysel.
Sebanyak 39 orang, yang kebanyakan orang Italia dan fans Juventus, tewas, dan 600 orang lainnya terluka daam konfrontasi tersebut.
Setelah dilakukan penyelidikan, pendukung Inggris menjadi pihak yang bersalah atas insiden tersebut.
Pada 2 April 1985, UEFA memberikan hukuman larangan bermain untuk klub-klub Inggris di kompetisi Eropa untuk jangka waktu yang tak ditentukan.
Namun pada 6 Juni 1985, FIFA menambahkan hukuman larangan bermain tersebut berlaku untuk kompetisi di seluruh dunia.
Tetapi hukuman itu dimodifikasi sepekan kemudian bahwa mereka mengizinkan klub Inggris melakukan laga persahabatan di luar Eropa.
Baca juga: Terancam Sanksi FIFA: Melebihi Tragedi Haysel, Puasa Bola Lebih 5 Tahun
Pada Desember 1985, FIFA mengumumkan bahwa klub Inggris bisa memainkan laga persahabatan di Eropa, meski pemerintah Belgia melarang klub Inggris bermain di negaranya.
Bukan tak mungkin, FIFA juga akan memberikan hukuman ke klub Indonesia, mengingat banyaknya korban jiwa yang muncul atas kericuhan tersebut.
Tragedi ini pun melebihi jumlah korban dari Tragedi Heysel pada 29 Mei 1985, dalam laga final Liga Champions antara Liverpool dan Juventus.
Kala itu, tembok stadion Heysel runtuh dan menyebabkan 39 orang meninggal dunia.
FIFA menjatuhkan hukuman larangan tampil di kompetisi antarklub Eropa kepada klub Inggris selama lima tahun.
Dalam kerusuhan laga Arema FC vs Persebaya Surabaya semalam, juga ada pelanggaran yang terjadi. Keputusan pihak kepolisian menembakkann gas air mata sudah melanggar aturan FIFA. Semua itu tercantum dalam pedoman “FIFA Stadium Safety and Security Regulation”.
Yunus Nusi yakin bahwa AFC dan FIFA tidak akan mengambil keputusan yang merugikan Indonesia.
PSSI bertindak setelah insiden Kanjuruhan yang menewaskan ratusan korban jiwa. Tragedi itu terjadi pada 1 Oktober, selepas laga antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, pada pekan 11 Liga 1 2022/23.
Kericuhan terjadi setelah suporter Arema masuk ke dalam lapangan selepas pertandingan. Terjadi keributan antara suporter dan aparat, dan penembakkan gas air mata menjadi puncak dari kejadian nahas ini.
Baca juga: Real Madrid Siapkan Kontrak Baru Eder Militao: Klausul Rilis 1 Miliar Euro
Dengan banyaknya korban jiwa, setidaknya 130 jiwa sesuai laporan Polri, maka Indonesia harus was-was dengan perhatian FIFA dan AFC, yang bisa mencabut status tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, hingga sanksi.
Dalam sesi jumpa pers yang digelar PSSI, sekretaris jenderal Yunus Nusi membeberkan, bahwa pihaknya terus berkomunikasi dengan FIFA dan AFC. Menurut Yunus, induk sepakbola dunia itu tak akan mengambil sikap buru-buru.
"Kami selalu sampai dengan hari ini membangun komunikasi dengan FIFA, tentu kami berharap bahwa ini tidak menjadi rujukan bagi FIFA untuk mengambil keputusan yang tidak baik untuk Indonesia dan PSSI," ucap Yunus dikutip dari goal. (*)