OPINI

Berhasilkah Character Building Pendidikan Anti Korupsi?

Kasus ini merupakan sejarah kelam untuk dunia pendidikan. Indikasi gagalnya pembentukan karakter anti korupsi, bahkan di kampus yang dianggap pusat in

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/WawanAkuba
ILUSTRASI korupsi. 

Masih banyak lagi program-program yang dicanangkan untuk mengupayakan membangun karakter anti korupsi. 

Program pendidikan anti korupsi ini merupakan program global. Bukan hanya di Indonesia saja tetapi memang secara sistemik harus dijalankan. 

Spirit Indonesia dan G20 dalam memberantas korupsi perlu kita apresiasi. Hanya saja, pembahasan anti korupsi tidak akan bermakna apa apa. 

Bahkan perbaikan yang dilakukan selama ini dengan adanya program-program ini terbukti tidak mampu membentuk karakter anti korupsi. Nyatanya pelaku korupsi pun datang dari dunia pendidikan.

Solusi Paripurna

Sejatinya Islam memiliki konsep paripurna dalam pencegahan dan penindakan korupsi. Diantaranya pertama, partisipasi publik dan pendidikan berbasis aqidah Islam.

Dalam hal partisipasi publik, Negara akan mengkondisikan dan membiasakan perilaku amar makruf nahi mungkar. Masyarakat bertindak sebagai pengawas dan pengontrol perilaku maksiat dan kriminal. 

Dengan ketakwaan komunal, setiap pejabat negara akan memiliki kesadaran bahwa ia wajib jujur dan bertanggung jawab atas amanah jabatannya.

Kedua, mengaudit setiap kekayaan pejabat negara sebelum dan sesudah menjabat. Jika terdapat jumlah kekayaan yang tidak wajar, ia wajib membuktikan bahwa hasil kekayaan tersebut didapat dengan cara halal.

 Jika tidak bisa membuktikan, negara bisa mengambilnya. Dalam Islam Negara memiliki badan Pengawas/pemeriksa pejabat negara agar tidak ada penyalahgunaan uang negara untuk kepentingan pribadi.

Ketiga, penindakan hukuman tegas bagi para pelaku korupsi. Sanksi bagi pelaku korupsi adalah hukuman ta'zir yang kewenangannya berada di tangan Khalifah. 

Sanksi tersebut bisa berupa peringatan, publikasi, penyitaan harta, pengasingan, penjara, hingga hukuman mati.

Keempat, Negara memberikan gaji memadai untuk memenuhi kebutuhan primer hingga tersier mereka.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barang Siapa yang diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak mempunyai rumah, akan disediakan rumah; jika belum beristri, hendaknya menikah; jika tidak mempunyai pembantu, hendaknya ia mengambil pelayan; jika tidak mempunyai hewan tunggangan (kendaraan), hendaknya diberi. Dan barangsiapa mengambil lainnya, itulah kecurangan (ghalin).” (HR Abu Dawud).

Demikianlah Islam memberikan solusi dalam permasalahan korupsi yang sampai dengan hari ini masih menjadi masalah. (*)

Opini Ini Sepenuhnya Tanggung Jawab Penulis, Isi dan Materinya tidak Mewakili Pandangan Redaksi TribunGorontalo.com.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved