Capres 2024

Duet Puan Maharani dan Prabowo Subianto Sulit Terwujud, Ini Alasan Politisi PKB

Duet Puan Maharani dan Prabowo Subianto sulit terwujud. Partai Gerindra telah menetapkan Prabowo sebagai calon presiden (capres).

Editor: lodie tombeg
Kolase TribunGorontalo.com
Puan Maharani (kiri) bersama petani di Sumut dan Prabowo Subianto. Duet Puan Maharani dan Prabowo Subianto sulit terwujud. Partai Gerindra telah menetapkan Prabowo sebagai calon presiden (capres). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Duet Puan Maharani dan Prabowo Subianto sulit terwujud. Partai Gerindra telah menetapkan Prabowo sebagai calon presiden (capres).

Sementara PDIP yang menjagokan Puan Maharani unggul dalam perolehan kursi parlemen (DPR RI). PDIP akan kukuh Puan Maharani sebagai capres.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Syaiful Huda sulit kerja sama PDIP dan Gerindra untuk menduetkan Puan Maharani dan Prabowo.

Baca juga: Baliho Puan Maharani Ramai di Jalan Trans Sulawesi, Tren Naik Elektabilitas Capres PDIP

Menurut Ketua Komisi X DPR RI itu, kerja sama antara PDIP dan Gerindra sulit terwujud, lantaran perolehan suara Partai Gerindra dalam Pemilu 2019 lebih rendah ketimbang PDIP.

Sementara itu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ingin maju sebagai calon presiden (capres).

"Masih butuh diskusi panjang, saat yang sama Pak Prabowo ingin jadi capres, kalau yang logis ya mengajak partai menengah,” kata Huda ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (1/9/2022)

Di sisi lain, pihaknya mengusulkan agar partai papan atas termasuk PDIP membentuk poros koalisi Pilpres 2024 sendiri. Hal ini agar memunculkan banyak pilihan calon pemimpin di 2024.

"Partai-partai papan atas membikin blok koalisi sendiri, supaya kilometer nol Pilpres 2024 yang tidak ada incumbent ini kita bisa menyuguhkan banyak figur terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini," ucapnya.

Usulan Huda itu agar tidak terjadi polarisasi di Pilpres 2024 karena hanya dua pasang calon yang maju.

Dia menyebut masyarakat butuh disuguhkan alternatif calon pemimpin. "Kalau dua pasangan, potensi untuk terjadi polarisasi itu pasti akan kuat," pungkas Huda.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved