Kisah Nani Wartabone: Tangkap Pejabat Belanda, Lawan Jepang-Permesta hingga Jadi Petani Kecil
Nani Wartabone mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya, menangkap pejabat Belanda di Gorontalo, melawan pendudukan Jepang. Ceritanya akhir jadi petani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/170822-nani-wartabone-17.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Gorontalo punya tokoh patriotik dan kukuh terhadap perjuangan Kemerdekaan RI. Namanya Nani Wartabone.
Dalam kisah perjuangannya, Nani Wartabone mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya, menangkap pejabat Belanda di Gorontalo, melawan pendudukan Jepang. Ceritanya akhir, dia menjadi petani kecil di desa.
Beberapa peristiwa heroik yang dipimpinnya seperti Hari Patriotik 23 Januari 1942 atau Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo, memimpin Partai Nasionalis Indonesia (PNI) Gorontalo hingga menolak PRRI/Permesta.
Nani Wartabone lahir di Gorontalo, 30 April 1907. Ia adalah putra dari Zakaria Wartabone, seorang aparat yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda.
Walaupun sang ayah bekerja untuk Belanda, ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap penjajah.
Nani tidak betah bersekolah karena baginya para guru asal Belanda ini terlalu meninggi-ninggikan bangsa barat dan merendahkan bangsa Indonesia.
Nani Wartabone merupakan penentang kolonialisme yang aktif berorganisasi.
Nani Wartabone memulai perjuangannya dengan mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun berselang, 1928, ia menjadi Ketua PNI cabang Gorontalo.
Pada 1942, Indonesia tengah dikuasai oleh Jepang.
Nani Wartabone mendengar bahwa Jepang telah berhasil menduduki Manado. Orang-orang Belanda melarikan diri ke Poso.
Hal ini lantas membuat orang Belanda di Gorontalo merasa khawatir. Mereka pun bersiap pergi dengan lebih dulu melakukan bumi hangus.
Pada 22 Januari 1942, Belanda membakar kapal motor Kalio dan gudang kopra di pelabuhan. Mengetahui peristiwa ini, Nani menyiapakan senjata dan pasukannya.
Pada 23 Januari 1942, pasukan yang ia pimpin langsung ini berangkat dari Suwawa menuju Gorontalo.
Nani Wartabone pun berhasil menangkap para pejabat Belanda di Gorontalo. Ia kemudian memimpin rakyat untuk menurunkan bendera Belanda dan mengibarkan bendera merah putih.
Pada 26 Februari, kapal perang Jepang yang bertolak dari Manado berlabuh di pelabuhan Gorontalo.