Kisah Nani Wartabone: Tangkap Pejabat Belanda, Lawan Jepang-Permesta hingga Jadi Petani Kecil
Nani Wartabone mendirikan Jong Gorontalo di Surabaya, menangkap pejabat Belanda di Gorontalo, melawan pendudukan Jepang. Ceritanya akhir jadi petani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/170822-nani-wartabone-17.jpg)
Nani Wartabone pun menyambut para tentara Jepang dengan baik. Sampai akhirnya, setelah menduduki Indonesia, Jepang melarang adanya pengibaran bendera merah putih.
Mereka juga menuntut agar warga Gorontalo tunduk terhadap Jepang. Nani Wartabone pun menolak permintaan tersebut.
Rakyat yang berpihak dengan Nani kemudian melakukan mogok massal membuat Gorontalo bak kotak mati.
Melalui peristiwa ini, Jepang memfitnah bahwa Nani Wartabone telah menghasur rakyat untuk berontak kepada Jepang.
Pada 30 Desember 1943, Nina pun ditangkap dan dibawa ke Manado. Ia baru dilepaskan pada 6 Juni 1945, detik-detik Jepang mulai kalah terhadap Sekutu.
Pada Maret 1957, kejadian PRRI/Permesta telah mengambil alih kekuasaan di Gorontalo. Nani Wartabone tidaklah tinggal diam.
Ia kembali memimpin rakyat untuk merebut kekuasaan PRRI/Permesta di Gorontalo. Sayangnya, pasukan Nani masih kalah kuat untuk persenjataannya.
Sehingga ia bersama keluarganya pun dipaksa keluar masuk hutan untuk menghindari sergapan pasukan pemberontak.
Setelah peristiwa PRRI/Permesta di Gorontalo, Nani kembali dipercaya untuk memegang beberapa jabatan penting.
Seperti Residen Sulawesi Utara di Gorontalo. Nani Wartabone tutup usia pada 3 Januari 1986. Berkat jasanya, Nani pun diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No 085/TK/ 2003 pada 6 November 2003.
Tugu Nani Wartabone juga dibangun di Kota Gorontalo guna mengingatkan masyarakat Gorontalo terhadap peristiwa 23 Januari 1942.
Perintis Kemerdekaan Asal Gorontalo
Sejumlah jabatan penting pernah disandangnya setelah Indonesia merdeka. Di antaranya Kepala Pemerintahan di Gorontalo, Anggota MPRS, Anggota DPRGR, Anggota Dewan Perancang Nasional, hingga Anggota DPA.
Nani Wartabone tidak betah berada di sekolah karena dia menilai guru-gurunya banyak yang mengagungkan Belanda.
Bahkan Nani Wartabone pernah membebaskan tahanan ayahnya karena tidak sampai hati melihat bangsanya dihukum.