Demi Hemat Biaya, Warga Gorontalo Masak Pakai Batok Kelapa
Alasannya sederhana menggunakan batok kelapa. warga Gorontalo ini tak ingin boros biaya masak.
Penulis: Husnul Puhi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/05072022_Hadijah-Podungge-68_.jpg)
Murah saja, per karung dengan isi puluhan, dijual dengan harga Rp 2.500.
Karena transaksi yang ia lakukan itu, tidak heran banyak tumpukan batok kelapa di depan rumahnya.
"Jika hujan, saya sekedar membalikkan gempurung tersebut, yang penting bagian dalamnya tidak basah," tegasnya.
Pembelinya selain masyarakat, juga pengusaha batu bata. Batok kelapa miliknya biasa digunakan untuk membakar batu bata.
"Banyak yang sering datang ke saya untuk membeli gempurung ini, untuk dijadikan bahan bakar dalam proses pembuatan batu tela," ujar Hadijah.
Hadijah adalah lansia yang memiliki tiga cucu. Dari batok kelapa, ia lantas mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Jelang Lebaran Idul Adha seperti ini biasanya ia akan kebanjiran. Sebab banyak masyarakat yang membeli batok kelapa untuk membakar sate.
"Menjelang idul adha pasti banyak yang mau bakar-bakar daging sapi atau kambing, gempurung ini bisa juga untuk dijadikan alat bakarnya," pungkasnya.
Menurut wanita yang bermukim di Kelurahan Liluwo, Kota Gorontalo tersebut, bara api yang dihasilkan oleh gempurung ini sangat awet.
Karena gempurung sangat tebal, berbeda dengan tempurung yang tipis dan cepat habis bara apinya.
Meski ia pun mengaku juga menjual tempurung. (*)