Demi Hemat Biaya, Warga Gorontalo Masak Pakai Batok Kelapa
Alasannya sederhana menggunakan batok kelapa. warga Gorontalo ini tak ingin boros biaya masak.
Penulis: Husnul Puhi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/05072022_Hadijah-Podungge-68_.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Adalah Hadijah Podungge (68) warga Gorontalo yang memilih menggunakan batok kelapa dalam memasak.
Alasannya sederhana menggunakan batok kelapa. warga Gorontalo ini tak ingin boros biaya masak.
Apalagi, nyala api dari batok kelapa, tidak kalah besar dari gas elpiji. Sudah begitu, apinya awet pula.
Hadijah adalah warga Kota Tengah Gorontalo. Rumahnya tepat berada di jalan Palu.
Saat ditemui TribunGorontalo.com pada Selasa (6/7/2022), Hadijah tengah sibuk memilah batok kelapa yang akan dipakai memasak.
"Jika ingin memasak dengan skala yang lama, maka bagusnya menggunakan gempurung ini," ungkap Hadijah kepada Tribun Gorontalo pagi hari, Selasa, (5/7/2022).
Gempurung adalah sebutan Hadijah untuk batok kelapa yang belum dikeluarkan dari sabutnya. Batok kelapa ini dikeringkan bersama sabut, hingga mengeras dan memadat.
Harga gas elpiji dan minyak tanah yang mahal jadi motivasi Hadijah untuk tetap menggunakan batok kelapa.
Apalagi ia yang mengaku hanya pedagang kecil di pasar. Tentu penghasilannya tekor jika harus membeli gas elpiji.
Memasak menggunakan batok kelapa memang dinilai bermanfaat oleh Hadijah. Apalagi ketika ada acara-acara besar, yang mengharuskan masak besar.
Sebut saja Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Lebaran Ketupat, atau pesta.
"Kalau hari-hari besar itu biasanya pada buat burasa, nasi bulu, dan soup-soup begitu yaa, nah ini memakan waktu yang lama dalam pembuatannya (masak)," ujarnya.
Lama berarti harus mempertahankan nyala api tetap besar. Maka dibutuhkan pula bahan bakar yang banyak.
“Bayangkan jika harus menggunakan gas elpiji. Bisa berapa banyak kan yang dibutuhkan. Maka saya pikir pakai batok kelapa lebih baik,” cerita Hadijah.
Tidak selalu digunakan pribadi. Batok kelapa milik Hadijah juga dijual ke masyarakat yang membutuhkan.
Murah saja, per karung dengan isi puluhan, dijual dengan harga Rp 2.500.
Karena transaksi yang ia lakukan itu, tidak heran banyak tumpukan batok kelapa di depan rumahnya.
"Jika hujan, saya sekedar membalikkan gempurung tersebut, yang penting bagian dalamnya tidak basah," tegasnya.
Pembelinya selain masyarakat, juga pengusaha batu bata. Batok kelapa miliknya biasa digunakan untuk membakar batu bata.
"Banyak yang sering datang ke saya untuk membeli gempurung ini, untuk dijadikan bahan bakar dalam proses pembuatan batu tela," ujar Hadijah.
Hadijah adalah lansia yang memiliki tiga cucu. Dari batok kelapa, ia lantas mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Jelang Lebaran Idul Adha seperti ini biasanya ia akan kebanjiran. Sebab banyak masyarakat yang membeli batok kelapa untuk membakar sate.
"Menjelang idul adha pasti banyak yang mau bakar-bakar daging sapi atau kambing, gempurung ini bisa juga untuk dijadikan alat bakarnya," pungkasnya.
Menurut wanita yang bermukim di Kelurahan Liluwo, Kota Gorontalo tersebut, bara api yang dihasilkan oleh gempurung ini sangat awet.
Karena gempurung sangat tebal, berbeda dengan tempurung yang tipis dan cepat habis bara apinya.
Meski ia pun mengaku juga menjual tempurung. (*)