Mei 1979 Bendi Gorontalo 574 Unit, 27 Mei 2022 Sisa 6 Unit
MUTU Haledula, mengaku jadi kusir bendi di Kota Gorontalo, saat usianya 20 tahun. Itu tahun 1979 dan dia masih pengantin baru.
Penulis: Redaksi |
Pemerhati sosial dan budaya Gorontalo, Rosyid A Azhar (51).
"(angkutan) Bendi berkurang karena hukum alam perubahan zaman. dan solusinya ya keberpihakan pemerintah kota melestarikannya dan dukungan publik untuk tetap naik bendi dalam kota," ujar Rosyid kepada TribunGorontalo.com, Kamis (26/5/2022).
Pemerintah kota memang tak menutup mata atas nasib bendi sebagai moda transportasi jadul Gorontalo.
Baca juga: Setelah Bentor Kini Bendi Gorontalo Melawan Punah dari Angkutan Online
Sebagai otoritas pelestari budaya dan penjaga marwah sosial kota, Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea (2008-2013) sudah medesain program resmi pelestarian bendi kota.
Melalui staf ahlinya, Tommy Yahya, medio 2009 silam, Adhan memberi bantuan kursus singkat bahasa Inggris dan adab menjamu turis ke sekitar 30-an kusir bendi kota.
Pemerintah juga berkolaborasi dengan manajemen Hotel Quality di Jl DI Pandjaitan, Kelurahan Ipilo, Gorontalo di untuk mengarahkan turis asing dan domestik untuk "naik delman keliling kota tua".
Di tahun 2019, pada periode akhir pertama Walikota Marthen Taha (2014-2023), juga melihat bendo sebagai potensi moda transportasi wisata.
Ketua DPD Golkar Kota Gorantalo itu mengupayakan revitalisasi bendi Gorontalo. Dia mewajibkan kusir menyiapkan "karung penada kotoran wadala (kuda) bendi" agar tak mengotori jalan dan pangkalan bendi.
Tahun 2016 lalu, Win Akustia, peneliti dari Puslitbang Manajemen Transportasi Multimoda Kemenhub melansir, persentase jumlah bendi di Gorontalo, tak lagi mewakili anasir moda transportasi kota.
Disebutkan, dalam satu dekade terakhir, populasi bendi menyusut di tiga simpul transportasi utama pergerakan orang di Kota Gorontalo: Bandara Djalaluddin, Pelabuhan Laut Gorontalo dan Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.
Penyusutan juga terjadi di empat lokasi terminal penumpang yang ada di Kota Gorontalo,: Terminal 42 Andalas (tipe A), Terminal Pusat Kota (tipe B), Terminal Moodu (tipe B), dan Terminal Leato (tipe B), serta satu rencana lokasi terminal tipe A di Dungingi.
Padahal sejatinya, sentra alihmoda (terminal) itu adalah kawasan strategis ekonomi angkutan umum.
Dalam dua dekade terakhir, preferensi atau rujukan moda transportasi utama di Kota Gorontalo adalah bentor (43,2 persen) dan sepeda motor (38,5 persen), sedangkan angkutan umum (angkot/angkudes, bus BRT/sekolah, dan bendi) sekitar 9,3 persen dan mobil pribadi sekitar 8,76 persen.
Bendi tak lagi capai 0,1 persen di tahun 2015 hingga 2016. Berkisar 0,04 persen, atau dibawah hitungan jari.
Data Samsat Kota Gorontalo hingga tahun 2017, tercatat sejumlah 83.021 Unit kenderaan berada di Kota Gorontalo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kendaraan-legend-Bendi-di-Kota-Gorontalo.jpg)