Selasa, 10 Maret 2026

Kisah Shireen Abu Akleh Jurnalis yang Tewas di Tangan Pasukan Israel

Jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh telah tewas dibunuh pasukan Israel di Jenin, di Tepi Barat yang diduduki pada Rabu (11/5/2022).

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Kisah Shireen Abu Akleh Jurnalis yang Tewas di Tangan Pasukan Israel
tribunnews
Demonstran Palestina dan aktivis Israel, dari gerakan Combatants for Peace, membawa poster selama pertemuan untuk menghormati jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh di kota alkitabiah Tepi Barat Bethlehem pada 12 Mei 2022. 

Dari awal Intifada Kedua pada tahun 2000 hingga 2012 setidaknya 25 jurnalis lainnya dibunuh oleh pasukan Israel.

Mereka yang tewas adalah:

- Muhammad Musa Abu Eisha (2012);

- Mahmoud Ali Ahmad al-Koumi (2012);

- Hussam Muhammad Salama (2012);

- Cevdet Kiliclar (2010);

- Alaa Hammad Mahmoud Murtaja (2009);

-Ihab Jamal (2009);

- Hassan Al-Wahidi (2009);

- Basil Ibrahim Faraj (2009);

- Omar Abdel-Hafiz Al-Silawi (2009);

- Fadel Sobhi Shana'a (2008);

- Hassan Ziyad Shaqoura (2008);

- Muhammad Adel Abu Halima (2004);

- Khalil Muhammad Khalil Al-Zaben (2004);

- James Henry Dominic Miller (2003);

- Nazih Adel Darwaza (2003);

- Fadi Nashaat Alawneh (2003);

- Issam Mithqal Hamza Al-Talawi (2002);

- Imad Sobhi Abu Zahra (2002);

- Amjad Bahjat Al-Alami (2002);

- Jamil Abd Allah Nawara (2002);

- Ahmed Noaman (2002);

- Raffaele Chirilo (2002);

- Muhammad Abdul-Karim Al-Bishawi (2001);

- Othman Abdul-Qader Al-Qatani (2001);

-Aziz Youssef Al-Tanh (2000).

Kurangnya Akuntabilitas Israel

Pembunuhan Abu Akleh sekali lagi menyoroti kurangnya akuntabilitas dalam serangan mematikan Israel terhadap jurnalis dan pekerja media.

Israel telah menawarkan untuk melakukan penyelidikan bersama atas pembunuhan Abu Akleh dengan otoritas Palestina, sebuah proposal yang ditolak oleh otoritas Palestina.

Rekam jejak Israel dalam melakukan investigasi tersebut telah digambarkan sebagai "mekanisme" untuk mengapur.

Berbicara kepada Al Jazeera pada hari Rabu, Omar Shakir, direktur Israel dan Palestina untuk Human Rights Watch, mengatakan Israel tidak dapat dipercaya untuk meminta pertanggungjawaban dari mereka yang harusnya bertanggung jawab.

“Kenyataannya adalah tidak ada pertanggungjawaban atas pelanggaran semacam itu ketika menyangkut tindakan oleh otoritas Israel,” kata Shakir.

Uni Eropa, AS, dan PBB, serta pemerintah dan organisasi internasional lainnya, kini telah menyerukan penyelidikan penuh, independen, dan tidak memihak atas pembunuhan Abu Akleh, jurnalis terbaru yang dibunuh yang meliput Palestina.

Siapa Sebenarnya Shireen Abu Aqla?

Wartawati kondang berdarah Palestina-Amerika Shireen Abu Aqla tewas ditembak saat meliput serangan Israel di kawasan pendudukan Tepi Barat.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan bahwa Abu Aqla meninggal dunia setelah menderita luka berat di kepala saat ia meliput penyerbuan aparat keamanan Israel di sebuah kamp pengungsi di kota Jenin untuk stasiun televisi Al-Jazeera pada hari Rabu pagi (11/05).

Al-Jazeera, yang berbasis di Qatar, mengatakan dalam sebuah pernyataan pers bahwa korespondennya itu dibunuh "dengan sengaja" dan "dengan darah dingin" oleh pasukan Israel.

Jaringan media itu juga mengutip saksi mata yang mengatakan bahwa "penembak jitu sengaja menembak Sherine di kepala, meskipun perempuan itu mengenakan rompi dan helm yang jelas bertuliskan 'pers'".

Jenazah Abu Aqla disemayamkan di kompleks kantor presiden Palestina (Muqata'a) di Ramallah sebelum dibawa ke Yerusalem untuk dimakamkan pada Kamis (12/05).

Perdana Menteri Israel mengatakan "kemungkinan besar" rombongan Al-Jazeera itu ditembak oleh orang-orang bersenjata dari pihak Palestina selama baku tembak.

Peristiwa ini terjadi saat kekerasan antara Israel dan Palestina kembali memanas.
Siapakah Shireen Abu Aqla?

Shireen Abu Aqla lahir pada Januari 1971 di Yerusalem. Dia lulus dari Sekolah Menengah Rosary Sisters di permukiman Beit Hanina, Yerusalem.

Awalnya ia belajar arsitektur di Jordan University of Science and Technology. Ia kemudian memperoleh gelar Sarjana media dan jurnalisme dari Universitas Yarmouk di Yordania, dengan spesialisasi media cetak.

Setelah lulus, Shireen bekerja di beberapa organisasi media di wilayah Palestina, termasuk jaringan radio Voice of Palestine dan Amman TV. Ia bergabung dengan Al-Jazeera pada tahun 1997 - setahun setelah peluncurannya - dan menjadi salah satu koresponden lapangan pertama saluran tv tersebut.

Abu Aqla menjadi terkenal selama 25 tahun terakhir, dengan meliput banyak peristiwa dalam konflik Palestina-Israel. Ini termasuk pemberontakan Intifada Palestina pada tahun 2000, dan penyerbuan Israel di Kamp Pengungsi Jenin dan kota Tol Karam pada tahun 2002. Ia juga meliput operasi Israel dan serangan udara di Jalur Gaza selama beberapa tahun terakhir.

Shireen juga merupakan reporter Arab pertama yang mendapat akses ke penjara Ashkelon, di dekat Gaza, pada tahun 2005. Di sana, ia menemui para tahanan Palestina yang dijatuhi hukuman penjara yang panjang oleh pengadilan Israel.

Abu Aqla mengatakan bahwa kunjungannya ke penjara adalah pengalaman yang sangat berbekas baginya, setelah ia menyaksikan secara langsung kondisi warga Palestina di penjara-penjara Israel.

Dalam wawancara sebelumnya yang ia rekam dengan Al Jazeera, Abu Aqla mengatakan bahwa pasukan Israel selalu menuduhnya meliput dari zona militer. Ia menambahkan bahwa ia selalu merasa menjadi sasaran dan tidak henti-hentinya berselisih dengan pasukan Israel dan pemukim bersenjata.

Dalam video promosi yang disiarkan Al Jazeera pada Oktober 2021, menandai ulang tahun ke-25 saluran tersebut, Abu Aqla mengatakan: "Saya memilih jurnalisme supaya dekat dengan masyarakat. Mungkin tidak mudah bagi saya untuk mengubah kenyataan, tapi setidaknya saya bisa mengangkat suara mereka kepada dunia ... Saya Shireen Abu Aqla."

Apa yang terjadi?

Pada Rabu pagi, Abu Aqla pergi ke kamp pengungsi Jenin untuk melaporkan penyerbuan pasukan keamanan Israel. Menurut militer Israel, aksi itu dilakukan untuk menangkap "tersangka teroris".

"Selama aksi itu, puluhan pria Palestina bersenjata menembaki dan melemparkan alat peledak ke arah tentara. Para prajurit merespons dengan tembakan ke arah orang-orang bersenjata dan mengenai beberapa orang," kata sebuah pernyataan militer.

Kementerian kesehatan Palestina mengatakan Abu Aqla terkena peluru tajam di kepala selama serangan itu. Ia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis dan kemudian dinyatakan meninggal.

Wartawan Palestina lainnya, produser Al Jazeera Ali Samoudi, ditembak dari belakang dan sudah berada dalam kondisi stabil di rumah sakit, imbuh kementerian kesehatan.

"Kami berniat memfilmkan operasi tentara Israel dan tiba-tiba mereka menembak kami tanpa meminta kami untuk pergi atau berhenti syuting," kata Samoudi. "Peluru pertama mengenai saya dan peluru kedua mengenai Shireen.

"Tidak ada perlawanan militer Palestina sama sekali di tempat kejadian," imbuhnya.

Video penembakan menunjukkan Abu Aqla mengenakan jaket antipeluru berwarna biru yang jelas-jelas bertulisan "pers", serta helm.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengutuk penembakan Abu Aqla dan Samoudi dan menuduh bahwa itu adalah "bagian dari kebijakan pendudukan yang menyasar wartawan untuk mengaburkan kebenaran dan melakukan kejahatan secara diam-diam".

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menuduh Abbas membuat "tuduhan tak berdasar".

"Menurut informasi yang kami kumpulkan, tampaknya orang-orang bersenjata Palestina - yang menembak tanpa pandang bulu pada saat itu - bertanggung jawab atas kematian jurnalis yang malang itu," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Orang-orang Palestina di Jenin bahkan terekam sedang membual: 'Kami menembak seorang tentara; dia terbaring di tanah." Namun, tidak ada tentara [Israel] yang terluka, yang memperbesar kemungkinan bahwa teroris Palestina adalah orang-orang yang menembak wartawan."

Kementerian luar negeri Israel dan militer Israel melampirkan sebuah video dalam cuitannya yang menunjukkan seorang pria bersenjata Palestina menembaki sebuah gang di kamp Jenin.

Namun, kelompok hak asasi manusia Israel B'Tselem belakangan mengatakan penyelidikannya di Jenin menyimpulkan bahwa tembakan Palestina yang terlihat dalam video itu tidak mungkin merupakan tembakan yang mengenai Abu Aqla dan Samoudi.

Menanggapi komentar tersebut, kementerian luar negeri Israel menekankan bahwa "tidak ada klaim bahwa tembakan dalam klip itu menewaskan" Abu Aqla.

Komandan militer Israel Letnan Jenderal Aviv Kohavi sementara itu mengeluarkan pernyataan yang mengatakan: "Pada tahap ini, tidak mungkin untuk menentukan siapa yang menembaknya dan kami turut berduka atas kematiannya."

Bennett juga mengatakan Israel telah meminta Otoritas Palestina untuk melakukan post mortem dan penyelidikan bersama untuk mendapatkan kebenaran. Ia mengklaim bahwa para pejabat Palestina sejauh ini menolak tawaran itu, namun seorang menteri Palestina mengatakan tidak ada kontak dari Israel tentang penyelidikan bersama.

Militer Israel kerap melakukan penggerebekan di kamp pengungsi Jenin. Aktivitas itu meningkat baru-baru ini menyusul gelombang serangan oleh warga Arab Israel dan Palestina di jalan-jalan Israel dan Tepi Barat dalam beberapa pekan terakhir yang telah menewaskan 17 warga Israel dan dua warga Ukraina.

Setidaknya 26 warga Palestina tewas - termasuk beberapa penyerang yang ditembak mati saat melakukan serangan, atau militan dan warga sipil tewas selama serangan dan konfrontasi Israel di Tepi Barat.

Operasi Israel berpusat di distrik Jenin, tempat asal empat warga Palestina yang melakukan serangan di Israel.

Kecaman dari berbagai negara

Kecaman datang dari banyak negara. AS mengecam pembunuhan jurnalis Al Jazeera itu sembari menyerukan penyelidikan. "Kami serukan adanya penyelidikan menyeluruh," kata Deputi Juru Bicara Gedung Putih, Karen Jean-Pierre.

Sedangkan Asisten Menteri Luar Negeri Qatar, Lulwa Al-Khater, Rabu mengatakan bahwa penembakan Abu Aqla itu adalah kejahatan yang keji dan daftar panjang aksi jahat pendudukan Israel "karena mereka menembak jurnalis itu di kepalanya saat mengenakan jaket bertuliskan 'pers.'"

Pembunuhan itu juga dikecam Kementerian Luar Negeri Mesir dan dianggap "melanggar atuan dan prinsip hukum kemanusiaan serta melecehkan kebebasan pers dan media."

Sementara seorang juru bicara Uni Eropa, seperti diberitakan Al Jazeera, mengaku pihaknya terkejut atas pembunuhan Shireen Abu Aqla saat sedang menjalankan tugas jurnalistiknya sehingga "kami menyerukan adanya investigasi independen." (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Selain Shireen Abu Akleh, Berikut 45 Jurnalis yang Tewas di Tangan Pasukan Israel Sejak Tahun 2000

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved