Konflik Rusia vs Ukraina

Upaya Membagi Dua Ukraina, Roket Rusia Gempur Lviv

Eskalasi politik dan pertempuran di Ukraina kembali naik. Serangan Rusia ke Ukraina terus datang dari berbagai sisi.

Editor: Lodie Tombeg
AFP/ANATOLII STEPANOV
Tentara Ukraina berjalan melewati tanda peringatan awas ranjau di garis depan perlawanan menghadapi separatis pro-Rusia dekat desa Luhansk, wilayah Donetsk, 11 Januari 2022. 

Menteri Luar Negeri AS menyatakan tidak ada strategi untuk perubahan rezim Rusia setelah presiden Joe Biden menuai kritik karena mengatakan Rusia Vladimir Putin "tidak dapat tetap berkuasa".

Pernyataan Blinken muncul setelah Biden mengutuk Putin sebagai "penjagal" yang tidak bisa lagi berkuasa dalam pidato bersejarah di Polandia.

Dari pernyataannya, Biden tampaknya mendesak orang-orang di sekitar presiden Rusia untuk menggulingkannya dari Kremlin.

Ancaman senjata nuklir Kremlin kembali mengangkat momok penggunaan senjata nuklir dalam perang dengan Ukraina.

Dmitry Medvedev, mantan presiden Rusia yang merupakan wakil ketua dewan keamanan negara, mengatakan Moskwa dapat menggunakan senjata nuklir untuk menyerang musuh yang hanya menggunakan senjata konvensional.

Pasukan Rusia merebut Slavutych, sebuah kota utara yang dekat dengan lokasi nuklir Chernobyl, pada Sabtu (27/3/2022) dan menahan walikotanya, Yuri Fomichev, sebagai tahanan.

Namun, setelah gagal membubarkan banyak pengunjuk rasa di alun-alun utama pada hari yang sama, meskipun mengerahkan granat kejut dan menembak di atas kepala-pasukan Rusia melepaskan walikota dan setuju untuk pergi.

Muncul Usulan Pemungutan Suara di Luhansk

Kepala wilayah separatis Luhansk di Ukraina timur, Leonid Pasechnik, pada Minggu (27/3/2022), mengatakan akan mengadakan referendum untuk Luhansk menjadi bagian dari Rusia, setelah Moskwa mengirim pasukan ke tetangganya yang pro-Barat.

"Saya pikir dalam waktu dekat akan diadakan referendum di wilayah republik ini,” lapor Kantor Berita Rusia mengutip penyataan Leonid Pasechnik.

Dengan ini, Leonid Pasechnik menyampaikan rakyat Luhansk akan menggunakan hak konstitusional utama mereka dan mengungkapkan pendapat mereka tentang bergabung dengan Federasi Rusia. 

"Untuk beberapa alasan, saya yakin ini akan terjadi," katanya, dikutip dari Kantor Berita AFP.

Rusia melancarkan aksi militernya di Ukraina pada akhir Februari, dengan mengatakan pihaknya bertindak untuk membela republik Donetsk dan Luhansk yang memproklamirkan diri sebagai republik di timur negara itu.

Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri pada 21 Februari 2022 telah mengakui kemerdekaan kedua wilayah itu. Rusia juga telah memerintakan apa yang disebutnya operasi penjaga perdamaian di Donetsk dan Luhansk tak lama kemudian.

Kawasan industri Donetsk dan Luhansk telah lepas dari kendali Kyiv pada 2014. Ini terjadi dalam pertempuran yang selama beberapa tahun ke depan merenggut lebih dari 14.000 nyawa.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved