Konflik Rusia Vs Ukraina
Sanksi Ekonomi hingga Olahraga, Kini Rusia Didepak dari Sistem Keuangan Global
Dunia mengucilkan Rusia. Sanksi demi sanksi dijatuhkan kepada negeri beruang merah usai menginvasi Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/270222-rubel.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Berlin - Dunia mengucilkan Rusia. Sanksi demi sanksi dijatuhkan kepada negeri beruang merah usai menginvasi Ukraina. Mulai dari dunia olahraga, hubungan diplomatik hingga ekonomi.
Jerman dan sekutu Baratnya sepakat untuk menghentikan Rusia dari sistem pembayaran global SWIFT. Ini disampaikan juru bicara pemerintah Jerman pada Sabtu (26/2/2022), dalam paket sanksi ketiga yang bertujuan menghentikan invasi Rusia ke Ukraina. Dilansir Reuters, sanksi yang disepakati dengan Amerika Serikat, Prancis, Kanada, Italia, Inggris Raya dan Komisi Eropa.
Mereka juga akan membatasi kemampuan bank sentral Rusia untuk mendukung rubel. Hal itu akan mengakhiri "paspor emas" untuk orang kaya Rusia dan keluarga mereka. Ini juga akan menargetkan individu dan institusi di Rusia dan di tempat lain yang mendukung perang melawan Ukraina, kata juru bicara itu.
"Negara-negara tersebut menekankan kesediaan mereka untuk mengambil tindakan lebih lanjut jika Rusia tidak mengakhiri serangannya terhadap Ukraina dan dengan demikian terhadap tatanan perdamaian Eropa," tambahnya.
Mantan presiden Rusia yang juga menjadi pejabat tinggi keamanan negara tersebut, Dmitry Medvedev pada Sabtu (26/2/2022) mengatakan, Moskwa tidak benar-benar membutuhkan hubungan diplomatik dengan Barat. Hal itu dilontarkan setelah negara-negara Barat menjatuhkan sanksi kepada Rusia menyusul operasi militernya di Ukraina.
Medvedev, menulis di media sosial, mengatakan sudah waktunya untuk "menggembok kedutaan-kedutaan." Dia mengatakan, Moskwa akan melanjutkan operasinya di Ukraina sampai mencapai tujuan yang ditentukan oleh Presiden Vladimir Putin. Medvedev membuat komentar di halaman terverifikasinya di jejaring sosial Rusia VK.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Barat menerapkan sanksi yang sangat beragam. Di antaranya pembekuan aset pada banyak bank dan pengusaha Rusia, penghentian penggalangan dana di luar negeri, pembekuan proyek pipa gas senilai 11 miliar dollar AS ke Jerman dan membatasi akses ke barang-barang berteknologi tinggi seperti semikonduktor.
Baca juga: NATO Kirim Pasukan dan Jet Tempur, Militer Rusia Kepung Kiev
Dunia Olahraga Bereaksi
Beberapa pertandingan olahraga internasional yang semula akan dilangsungkan di Rusia telah dibatalkan, setelah pebalap Formula 1 Sebastian Vettel mengatakan akan memboikot balapan GP Rusia bulan September.
Menurut beberapa laporan, Federasi Sepak bola Eropa (UEFA) akan membatalkan penyelenggaran final Liga Champions di kota St Petersburg setelah Rusia melakukan invasi ke Ukraina, Kamis (24/2/2022).
Pertemuan khusus UEFA akan dilakukan Jumat (25/2/2022) untuk mendiskusikan krisis politik global tersebut, dan para pejabat UEFA dikatakan akan membatalkan penyelenggaraan final Liga Champions pada 28 Mei di St Petersburg, demikian kata seorang sumber, Kamis malam.
UEFA sudah mengeluarkan pernyataan mengecam tindakan Rusia dan mengatakan sedang memperhatikan situasi yang ada dengan sangat serius dan memastikan bahwa pertemuan akan dilakukan hari Jumat pukul 16.00 WIB. "Kami tetap dalam solidaritas kami dengan masyarakat sepak bola di Ukraina dan siap untuk mengulurkan tangan kepada warga Ukraina."
Di saat ancaman serangan Rusia terhadap Ukraina meningkat selama beberapa pekan terakhir, Pemerintah Inggris dan kelompok pencinta sepak bola sudah mulai menyerukan agar final Liga Champions tidak diselenggarakan di St Petersburg, di mana stadion tersebut disponsori oleh perusahaan energi milik pemerintah Rusia Gazprom.
Gazprom juga adalah sponsor utama klub sepak bola Jerman, Schalke. Tetapi, klub tersebut mengatakan hari Kamis bahwa logo Gazprom akan ditanggalkan dari kaos tim mereka. Seorang pejabat eksekutif senior Gazprom juga mengundurkan diri dari dewan pengawas klub yang berbasis di Gelsenkirchen setelah dia menjadi sasaran sanksi Amerika Serikat.
Matthias Warnig adalah direktur pelaksana perusahaan baru yang mengelola pipa gas dari Rusia ke Jerman Nord Stream 2 yang sekarang belum dioperasikan, yang semula adalah proyek bernilai triliunan rupiah kerja sama perusahaan Eropa dan Gazprom.