Konflik Rusia Vs Ukraina

Pria Ukraina Titip Anaknya ke Orang Asing untuk Bela Negara

Peperangan hanya melahirkan tragedi kemanusiaan. Seperti kisah seorang pria Ukraina yang terpaksa menitipkan anak bayi.

Editor: Lodie Tombeg
AFP/ANDREY BORODULIN
(Ilustrasi) Orang-orang yang dievakuasi dari Republik Rakyat Donetsk yang memproklamirkan diri duduk di bus menunggu kereta mereka dievakuasi jauh ke Rusia, di Kota Taganrog pada 20 Februari 2022. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Peperangan hanya melahirkan tragedi kemanusiaan. Seperti kisah seorang pria Ukraina yang terpaksa menitipkan anak bayi kepada orang asing untuk memebela negaranya.

Melintasi perbatasan dari Ukraina ke Hongaria, Nataliya Ableyeva memiliki satu misi yakni mengantarkan anak-anak orang asing keluar dari medan perang. Sambil menyimpan nomor ponsel seorang wanita yang belum pernah ia temui, Ableyeva berusaha mengamankan anak-anak yang dipercayakan kepadanya. Ableyeva sebelumnya bertemu dengan seorang pria 38 tahun di persimpangan perbatasan di sisi Ukraina.

Pria asal Kamianets-Podilskyi itu datang dengan putra putrinya yang masih belia. Penjaga perbatasan tidak membiarkan pria itu melintas.

Dilaporkan The Guardian, Ukraina melarang semua pria berusia 18 hingga 60 tahun keluar demi kepentingan bela negara.
"Ayah mereka hanya menyerahkan kedua anak itu kepada saya, dan memercayai saya, memberi saya paspor mereka untuk membawa mereka," kata Ableyeva sambi memeluk anak laki-laki yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.

Sang ayah mengatakan, ibu dari anak-anaknya sedang dalam perjalanan dari Italia untuk menemui mereka dan membawa ke tempat yang aman. Dia memberi Ableyeva nomor ponsel ibu dari anak-anaknya itu.

Tidak lupa mengucapkan selamat tinggal kepada dua buah hatinya tersebut. Ableyeva sendiri meninggalkan dua anaknya yang sudah dewasa di Ukraina. Keduanya berprofesi sebagai polisi dan perawat, sehingga dilarang meninggalkan negara menurut dekrit mobilisasi. Ableyeva menggandeng tangan dua anak kecil itu dan bersama-sama melintasi perbatasan.

Di sisi Hongaria tepatnya di Beregsurány, mereka menunggu di sebuah bangku dekat tenda yang didirikan untuk menampung arus pengungsi di perbatasan. Bocah laki-laki itu menangis ketika ponselnya berdering. Itu adalah telepon dari ibunya yang hampir sampai di pos perbatasan.

Anna Semyuk (33) tidak lama kemudian tiba dan langsung memeluk putra dan putrinya itu. Kedua bocah belia itu berbaring kelelahan di dalam mobil sambil berselimut. Semyuk mengucapkan terima kasih kepada Ableyeva.

Masyarakat Ukraina menghindari dari serangan tentara Rusia di Kiev, Kamis (24/2/2022).
Masyarakat Ukraina menghindari dari serangan tentara Rusia di Kiev, Kamis (24/2/2022). (tribunnews.com)

Kedua wanita ini berdiri di dalam cuaca yang dingin sambil berpelukan dan menangis. "Yang bisa saya katakan kepada anak-anak saya sekarang, semuanya akan baik-baik saja," kata Semyuk. "Dalam satu atau dua minggu, dan kami akan pulang," pungkasnya.

Pasukan Rusia meledakkan pipa gas alam di Kota Kharkiv, Ukraina pada Minggu (27/2/2022). Hal ini diinformasikan Dinas Komunikasi Khusus dan Perlindungan Informasi Negara Ukraina.

Dilaporkan Reuters, ledakan berbentuk jamur terekam dalam video yang tersebar di aplikasi Telegram.
Belum jelas seberapa vital pipa gas yang diledakkan militer Rusia dan apakah ledakan itu dapat mengganggu distribusi gas ke luar kota atau negara.

Baca juga: Sanksi Ekonomi hingga Olahraga, Kini Rusia Didepak dari Sistem Keuangan Global

Meskipun di tengah situasi perang, Ukraina tetap mengirimkan gas alam Rusia ke Eropa.
Menurut laporan AP News, Dinas Komunikasi Khusus dan Perlindungan Informasi memperingatkan bahwa ledakan tersebut dapat menyebabkan "bencana lingkungan".

Pihaknya mengimbau penduduk untuk menutupi jendela mereka dengan kain lembab atau kain kassa dan banyak minum.
Sementara itu, Kantor Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan, salah satu ledakan terjadi di dekat bandara Zhuliany dan wali kota Vasylkiv mengatakan sebuah pangkalan minyak terkena.

Belanda Pasok Senjata

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Belanda mengatakan bahwa negaranya akan mengirimkan senjata anti-tank ke Ukraina. "Pemerintah Belanda akan memasok 50 senjata anti-tank Panzerfaust-3 dan 400 roket," kata kementerian tersebut, dalam sebuah surat kepada parlemen Belanda.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved