Ritual Dayango di Ambara-Gorontalo, Memanggil Arwah Leluhur untuk Tolak Bala
Jalan berliku menjadi satu-satunya akses dilalui. Dari arah Pasar Bongomeme di ujung timur Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/100122-Dayango-6.jpg)
Ke depan bisa saja pawing bisa melakukan sosialisasi terhadap generasi agar mereka juga paham dan tahu betul cara menghidupkan tarian ini. Agar nantinya para generasi muda ini yang akan memperagakan pada komunitasnya.
Belajar dari para tokoh tentu menjadi sesuatu yang penting karena mereka telah mewarisi gerakan ini secara turun temurun, jangan sampai jadi salah persepsi ketika kita mengambil dari salah satu sumber kemudian dan tidak merupakan hal yang orisinalitas dari sumber itu bahkan ini akan adanya pembiasan dari sisi pembelajaran bagi generasi muda.
Ritual Dayango sebagai warisan leluhur, bisa dikata sebagai warisan yang terselamatkan dari zaman yang semakin canggih. Masih ada orang yang tetap konsisten melestarikannya. Seperti halnya masyarakat serumpun di Desa Ambara, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
Tamrin selaku Kepala Desa Ambara menambahkan, Dayango sebagai ritual masyarakat yang dipercaya untuk memanggil arwah nenek moyang guna mengobati masyarakat desa yang sedang sakit (momuli/ pabuto), meminta hujan saat kemarau (mo’miladu) dan mengobati negeri dari kemarahan leluhu (mo’tolohuta).
Baca juga: Binda dan Polres Gorontalo Kota Ajak Masyarakat Vaksinasi
Peragaan Ritual Dayango, dilakukan oleh masyarakat setempat, entah dari kalangan perempuan maupun lelaki, konon gerakan itu hanya dilakukan dengan cara menari yang dan diiringi dengan ketukan musik tradisional.
Para penari melangsungkan gerakan itu dengan setengah sadar (kerasukan) dikarenakan sebelum menari, ketua adat akan melakukan ritual pengambilan darah ayam hutan untuk di oleskan pada bagian jidat dan bagian tubuh lainnya, seperti di bagian tangan dan siku. tidak hanya itu.
Suasana tiba-tiba menjadi ramai setelah beberapa orang wanita mulai mohumbungo atau dikenal sebagai nyanyian pada prosesi dayango dengan lantunan nada keras. Para tokoh adat itu mulai membacakan mantra dan sesekali berteriak seperti sedang memanggil seseorang sembil mengayunkan daun woka yang ada ditangannya, dan terus mengulangnya hingga memantik lainnya untu turut menyuarakan nyanyian tersebut sampai berulang kali.
Mahluk yang dipanggil para tokoh adat sepertinya telah dating ditandai dengan penari yang secara bersamaan meletakkan tangan dikepalanya dan mulai mengayunkannya, dan sesekali bergerak sesuai irama ketukan dari para priyayi yang bertugas mengetukkan music tradisional tersebut, sepertinya arwah telah merasuki mereka.
Waktu menunjukan pukul 23.15 WITA, Prosesi dayango yang berlangsung beberapa jam itu akhirnya ternyata akan berlanjut hingga pagi hari, seharusnya gerakan ini memicu para penari kecapean, tetapi ternyata tidak. Namun para penari bahkan pemain alat music gendang itu semakin bersemangat melakukan ritual itu.
Gorontalo sebagai salah satu dari daerah yang merdeka sejak 23 Januari 1942 itu ternyata kaya akan tradisi-tradisi kebudayaan yang diturunkan oleh nenek moyang sebagai warisan untuk anak cucunya demi menjaga pengaruh bahaya dari orang luar. Jika masih ada yang peduli akan kelestarian kebudaayaan tentu harus di support oleh pemerintah bahkan oleh mereka perwakilan rakyat yang berada di kursi legislatif. (risman taharudin)