Ritual Dayango di Ambara-Gorontalo, Memanggil Arwah Leluhur untuk Tolak Bala
Jalan berliku menjadi satu-satunya akses dilalui. Dari arah Pasar Bongomeme di ujung timur Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/100122-Dayango-6.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Jalan berliku menjadi satu-satunya akses dilalui. Dari arah Pasar Bongomeme di ujung timur Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo itu, terasa sangat menguras tenaga saat berkendara.
Menanjak, serta membelah pegunungan dengan kondisi gelap gulita saat malam hari, adalah satu-satunya akses menuju Desa Ambara. Tribungorontalo.com mengikuti jalan masuk sepanjang 5 kilometer menuju desa. Memiliki tikungan seperti halnya lintasan “road race”. Jika sedang hujan, pengendara motor harus berhati-hati melaluinya karena jalanannya licin.
Kepulan kabut sepanjang jalan serasa menghalangi sinar lampu motor. Burung-burung pun bersorak riang di atas tempat ia bertengger seakan meledek perjalanan kami saat itu.
Bermodalkan insting, seorang teman yang katanya pernah menapaki Desa Ambara menjadi satu penunjuk arah untuk tiba di lokasi tersebut. Karena ragu dengan ingatannya, kami pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada para warga setempat yang sedang asyik menikmati seduhan kopinya sambil bermain domino (gaple).“Sudah betul jalan yang kamu lalui ini anak muda, kalian tinggal terus tidak perlu belok,sudah ini jalannya, setelah jembatan kurang lebih 200 meter kalian akan menemukan tempat ritual itu, kebetulan saya orang di situ,” tutur warga.
Kami pun melanjutkan perjalanan sesuai dengan arahan orang itu. Hingga akhirnya perbatasan desa yang bertuliskan “Anda memasuki Desa Ambara” menjadi pengingat jika kami akan sampai ke tujuan dan itu membuat perasaan sedikit lega.
Sepanjang perjalanan aroma dupa mulai tercium dari kejauhan, sedikit demi sedikit sepeda motor kami mulai mendekati asal bau dupa itu. Tidak terlalu melaju, terlihat kerumunan masyarakat di sebelah kiri jalan.
Terdengar lantunan alat musik tradisional yang dimainkan para priyayi. Sejenak kami berhenti melihat arah sekitar lokasi itu dan bertanya kepada masyarakat setempat apakah lokasi ini sebagai tempat pelaksanaan ritual dayango?
Seorang pria berbadan tegak itu menjawabnya dengan ramah. "Iya ini lokasi pelaksanaan Ritual Dayango,” tuturnya. Jawaban itu membuat kami lega akhirnya tibalah dilokasi ritual pemanggil arwah itu.
Baca juga: Lantik 23 Pejabat Dinkes, Bupati Gorontalo: Saya Ingatkan Covid Belum Selesai
Setiba di lokasi itu kami mulai menyalami orang-orang yang berkerumun di rumah itu dan menjelaskan tujuan kami datang di desa ini. Setelah memperkenalkan diri, kami disambut langsung oleh salah seorang bertubuh kekar yang ternyata kehadirannya di lokasi itu selaku Kepala Seksi Bidang Kesenian dan Kebudayaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo.
Desa Ambara, terletak strategis di Kabupaten Gorontalo ujung timur. Masyarakatnya masih sangat konsisten dalam melestarikan nilai-nilai kebudayaan sebagai warisan leluhur. Termasuk Ritual Dayango atau dikenal sebagai upacara pemanggil arwah para nenek moyang yang dipercaya untuk menolak bala.
Menurut Safwan Eka Putra yang juga selaku Kepala Seksi Kesenian dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo, Dayango ini merupakan warisan budaya yang saat ini hampir tidak ada sama sekali jika dilihat dari berbagai masyarakat ataupun komunitas budaya yang melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini.
“Setelah tadi kita menyimak dan melihat bahwa memang Dayango ini adalah ritual yang dilaksanakan memang keterlibatan generasi muda itu sangat kurang atau minim tentunya ini menjadi tugas bagi Dinas Kebudayaan untuk dapat menarik minat generasi muda dalam melakoni budaya ini dengan menghidupkan kembali sanggar-sanggar yang ada di desa maupun kecamatan agar lebih tertarik dan bersama–sama belajar memperagakan ritual seperti yang dilakukan,” terangnya.
Pelaksanaan tadi juga terlihat jelas yang melakoni ritual tersebut terlihat didominasi kalangan yang sudah lanjut usia, dikhawatirkan generasi muda bahkan tidak mengetahui lagi apa dayango itu, melalui Dinas Kebudayaan dan Pendidikan, kami akan terus melakukan kegiatan pelestarian nilai budaya dengan mengangkat kembali tradisi atau ritual dalam pendokumentasian kemudian akan dicatat yang bisa dirangkum di dalam warisan budaya harta benda yang setiap tahunnya kita ajukan ke kementerian.
“Selaku pemerintah daerah dalam hal ini dinas kebudayaan hal ini paling tidak dapat memberikan hal yang positif terhadap perkembangan atau pengembangan serta pelestarian tradisi budaya daerah Gorontalo yang sudah hampir punah.” Terang Safwan.
Safwan yang juga sebagai salah seorang yang memperagakan tarian Dayango di Istana Presiden pada tahun 1997 itu menambahkan, bagaimana orang itu bisa tau tentang Dayango. Dia harus terjun dulu di situ, minimal adanya perkaderan di generasi muda agar nantinya bisa menjadi pawang-pawangnya, karena menghidupkan ritual ini membutuhkan pawing.
Ke depan bisa saja pawing bisa melakukan sosialisasi terhadap generasi agar mereka juga paham dan tahu betul cara menghidupkan tarian ini. Agar nantinya para generasi muda ini yang akan memperagakan pada komunitasnya.
Belajar dari para tokoh tentu menjadi sesuatu yang penting karena mereka telah mewarisi gerakan ini secara turun temurun, jangan sampai jadi salah persepsi ketika kita mengambil dari salah satu sumber kemudian dan tidak merupakan hal yang orisinalitas dari sumber itu bahkan ini akan adanya pembiasan dari sisi pembelajaran bagi generasi muda.
Ritual Dayango sebagai warisan leluhur, bisa dikata sebagai warisan yang terselamatkan dari zaman yang semakin canggih. Masih ada orang yang tetap konsisten melestarikannya. Seperti halnya masyarakat serumpun di Desa Ambara, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
Tamrin selaku Kepala Desa Ambara menambahkan, Dayango sebagai ritual masyarakat yang dipercaya untuk memanggil arwah nenek moyang guna mengobati masyarakat desa yang sedang sakit (momuli/ pabuto), meminta hujan saat kemarau (mo’miladu) dan mengobati negeri dari kemarahan leluhu (mo’tolohuta).
Baca juga: Binda dan Polres Gorontalo Kota Ajak Masyarakat Vaksinasi
Peragaan Ritual Dayango, dilakukan oleh masyarakat setempat, entah dari kalangan perempuan maupun lelaki, konon gerakan itu hanya dilakukan dengan cara menari yang dan diiringi dengan ketukan musik tradisional.
Para penari melangsungkan gerakan itu dengan setengah sadar (kerasukan) dikarenakan sebelum menari, ketua adat akan melakukan ritual pengambilan darah ayam hutan untuk di oleskan pada bagian jidat dan bagian tubuh lainnya, seperti di bagian tangan dan siku. tidak hanya itu.
Suasana tiba-tiba menjadi ramai setelah beberapa orang wanita mulai mohumbungo atau dikenal sebagai nyanyian pada prosesi dayango dengan lantunan nada keras. Para tokoh adat itu mulai membacakan mantra dan sesekali berteriak seperti sedang memanggil seseorang sembil mengayunkan daun woka yang ada ditangannya, dan terus mengulangnya hingga memantik lainnya untu turut menyuarakan nyanyian tersebut sampai berulang kali.
Mahluk yang dipanggil para tokoh adat sepertinya telah dating ditandai dengan penari yang secara bersamaan meletakkan tangan dikepalanya dan mulai mengayunkannya, dan sesekali bergerak sesuai irama ketukan dari para priyayi yang bertugas mengetukkan music tradisional tersebut, sepertinya arwah telah merasuki mereka.
Waktu menunjukan pukul 23.15 WITA, Prosesi dayango yang berlangsung beberapa jam itu akhirnya ternyata akan berlanjut hingga pagi hari, seharusnya gerakan ini memicu para penari kecapean, tetapi ternyata tidak. Namun para penari bahkan pemain alat music gendang itu semakin bersemangat melakukan ritual itu.
Gorontalo sebagai salah satu dari daerah yang merdeka sejak 23 Januari 1942 itu ternyata kaya akan tradisi-tradisi kebudayaan yang diturunkan oleh nenek moyang sebagai warisan untuk anak cucunya demi menjaga pengaruh bahaya dari orang luar. Jika masih ada yang peduli akan kelestarian kebudaayaan tentu harus di support oleh pemerintah bahkan oleh mereka perwakilan rakyat yang berada di kursi legislatif. (risman taharudin)