Kamis, 2 April 2026

Ritual Dayango di Ambara-Gorontalo, Memanggil Arwah Leluhur untuk Tolak Bala

Jalan berliku menjadi satu-satunya akses dilalui. Dari arah Pasar Bongomeme di ujung timur Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Ritual Dayango di Ambara-Gorontalo, Memanggil Arwah Leluhur untuk Tolak Bala
Tribun Gorontalo
RITUAL - Proses Ritual Dayango di Desa Ambara, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Jalan berliku menjadi satu-satunya akses dilalui. Dari arah Pasar Bongomeme di ujung timur Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo itu, terasa sangat menguras tenaga saat berkendara.

Menanjak, serta membelah pegunungan dengan kondisi gelap gulita saat malam hari, adalah satu-satunya akses menuju Desa Ambara. Tribungorontalo.com mengikuti jalan masuk sepanjang 5 kilometer menuju desa. Memiliki tikungan seperti halnya lintasan “road race”. Jika sedang hujan, pengendara motor harus berhati-hati melaluinya karena jalanannya licin.

Kepulan kabut sepanjang jalan serasa menghalangi sinar lampu motor. Burung-burung pun bersorak riang di atas tempat ia bertengger seakan meledek perjalanan kami saat itu.

Bermodalkan insting, seorang teman yang katanya pernah menapaki Desa Ambara menjadi satu penunjuk arah untuk tiba di lokasi tersebut. Karena ragu dengan ingatannya, kami pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada para warga setempat yang sedang asyik menikmati seduhan kopinya sambil bermain domino (gaple).“Sudah betul jalan yang kamu lalui ini anak muda, kalian tinggal terus tidak perlu belok,sudah ini jalannya, setelah jembatan kurang lebih 200 meter kalian akan menemukan tempat ritual itu, kebetulan saya orang di situ,” tutur warga.

Kami pun melanjutkan perjalanan sesuai dengan arahan orang itu. Hingga akhirnya perbatasan desa yang bertuliskan “Anda memasuki Desa Ambara” menjadi pengingat jika kami akan sampai ke tujuan dan itu membuat perasaan sedikit lega.

Sepanjang perjalanan aroma dupa mulai tercium dari kejauhan, sedikit demi sedikit sepeda motor kami mulai mendekati asal bau dupa itu. Tidak terlalu melaju, terlihat kerumunan masyarakat di sebelah kiri jalan.

Terdengar lantunan alat musik tradisional yang dimainkan para priyayi. Sejenak kami berhenti melihat arah sekitar lokasi itu dan bertanya kepada masyarakat setempat apakah lokasi ini sebagai tempat pelaksanaan ritual dayango?

Seorang pria berbadan tegak itu menjawabnya dengan ramah. "Iya ini lokasi pelaksanaan Ritual Dayango,” tuturnya. Jawaban itu membuat kami lega akhirnya tibalah dilokasi ritual pemanggil arwah itu.

Baca juga: Lantik 23 Pejabat Dinkes, Bupati Gorontalo: Saya Ingatkan Covid Belum Selesai

Setiba di lokasi itu kami mulai menyalami orang-orang yang berkerumun di rumah itu dan menjelaskan tujuan kami datang di desa ini. Setelah memperkenalkan diri, kami disambut langsung oleh salah seorang bertubuh kekar yang ternyata kehadirannya di lokasi itu selaku Kepala Seksi Bidang Kesenian dan Kebudayaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo.

Desa Ambara, terletak strategis di Kabupaten Gorontalo ujung timur. Masyarakatnya masih sangat konsisten dalam melestarikan nilai-nilai kebudayaan sebagai warisan leluhur. Termasuk Ritual Dayango atau dikenal sebagai upacara pemanggil arwah para nenek moyang yang dipercaya untuk menolak bala.

Menurut Safwan Eka Putra yang juga selaku Kepala Seksi Kesenian dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo, Dayango ini merupakan warisan budaya yang saat ini hampir tidak ada sama sekali jika dilihat dari berbagai masyarakat ataupun komunitas budaya yang melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini.

“Setelah tadi kita menyimak dan melihat bahwa memang Dayango ini adalah ritual yang dilaksanakan memang keterlibatan generasi muda itu sangat kurang atau minim tentunya ini menjadi tugas bagi Dinas Kebudayaan untuk dapat menarik minat generasi muda dalam melakoni budaya ini dengan menghidupkan kembali sanggar-sanggar yang ada di desa maupun kecamatan agar lebih tertarik dan bersama–sama belajar memperagakan ritual seperti yang dilakukan,” terangnya.

Pelaksanaan tadi juga terlihat jelas yang melakoni ritual tersebut terlihat didominasi kalangan yang sudah lanjut usia, dikhawatirkan generasi muda bahkan tidak mengetahui lagi apa dayango itu, melalui Dinas Kebudayaan dan Pendidikan, kami akan terus melakukan kegiatan pelestarian nilai budaya dengan mengangkat kembali tradisi atau ritual dalam pendokumentasian kemudian akan dicatat yang bisa dirangkum di dalam warisan budaya harta benda yang setiap tahunnya kita ajukan ke kementerian.

100122-Dayango-4
Ritual Dayango di Provinsi Gorontalo.


“Selaku pemerintah daerah dalam hal ini dinas kebudayaan hal ini paling tidak dapat memberikan hal yang positif terhadap perkembangan atau pengembangan serta pelestarian tradisi budaya daerah Gorontalo yang sudah hampir punah.” Terang Safwan.

Safwan yang juga sebagai salah seorang yang memperagakan tarian Dayango di Istana Presiden pada tahun 1997 itu menambahkan, bagaimana orang itu bisa tau tentang Dayango. Dia harus terjun dulu di situ, minimal adanya perkaderan di generasi muda agar nantinya bisa menjadi pawang-pawangnya, karena menghidupkan ritual ini membutuhkan pawing.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved