Presidential Threshold
Rocky Gerung: Presidential Threshold 20 Persen Tak Hasilkan Kesejahteraan
Sistem Presidential Threshold (PT/ambang batas mencalonkan presiden) 20 persen telah gagal memperkuat sistem presidensial.
Sementara itu, akademisi UNAIR, Radian Salman menyebut MK menggunakan pertimbangan mengenai desain penguatan sistem presidensiil dengan cara pandang dan asumsi MK, khususnya mengenai PT dihubungkan dengan stabilitas, governability dan penyederhanaan parpol.
"Kecenderungan yang terjadi, presiden terpilih akan menempuh cara-cara kompromi atau tawar-menawar politik (political bargaining) dengan partai-partai pemilik kursi di DPR," ujarnya.
Cara yang paling sering dilakukan adalah dengan memberikan 'jatah' menteri kepada partai-partai yang memiliki kursi di DPR, sehingga yang terjadi kemudian adalah corak pemerintahan yang serupa dengan pemerintahan koalisi dalam sistem parlementer," katanya.
Sedangkan Akademisi UGM, Zainal Arifin Muchtar menyebut jika open legal policy, yang didalilkan oleh MK dalam kasus ini, boleh diimplementasikan sepanjang tak berlaku sewenang-wenang dan tidak melampaui kewenangan.
"Lalu juga sepanjang tidak menimbulkan persoalan kelembagaan dan tidak membuat deadlock yang merugikan masyarakat, serta tidak melanggar rasionalitas dan moralitas," kata Zainal. (Tribunnews)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Presidential Threshold 20 Persen Dinilai Gagal Perkuat Sistem Presidensial
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/090122-Rocky-Gerung.jpg)