Perbankan Akan Jadi Emiten Berprospek Bagus di 2022

Tahun 2022 lebih menjanjikan. Banyak harapan dan prospek investasi. Analis memandang positif kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2022.

Penulis: Lodie Tombeg | Editor: Lodie Tombeg
Tribunnews
Ilustrasi seorang sedang mengamati pergerakan saham di monitor bursa saham. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Tahun 2022 lebih menjanjikan. Banyak harapan dan prospek investasi. Analis memandang positif kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tahun depan.

Dengan pandangan positif tersebut, analis melihat beberapa sektor yang prospektif di tahun 2022.

Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menilai pada tahun depan IHSG akan berkisar pada level 7.500-7.600. Walau begitu, dirinya menegaskan proyeksi tersebut dengan asumsi IHSG tahun ini ditutup di level 6.600.

Dengan proyeksi tersebut, tiga sektor utama yang memiliki sektor positif yakni keuangan, FMCG, dan infrastruktur telekomunikasi. Selain ketiga sektor tersebut, dia juga masih menilai positif untuk sektor komoditas seiring harga yang cukup baik.

Untuk keuangan, menurutnya perbankan akan menjadi salah satu emiten yang memiliki prospek baik. "Seiring pemulihan ekonomi tentunya membutuhkan pendanaan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (28/12).

Baca juga: Rachmat Gobel Minta Industri Mamin Bantu Petani hingga UMKM

Kemudian untuk FMCG, dengan berjalannya pemulihan ekonomi sehingga ada harapan pemulihan daya beli pula. Di tengah proyeksi saat ini, Wawan menuturkan memang saat ini harga CPO yang tinggi dapat meningkatkan biaya bahan baku tetapi dia melihat kenaikan harga CPO memang biasa terjadi di akhir tahun.

"Lagipula dengan kenaikan daya beli tentunya tidak akan terlalu memberikan dampak," sebutnya.

Sektor lainnya datang dari infrastruktur telekomunikasi yang mana sektor tersebut masih dapat bertumbuh di tengah pandemi.

Selanjutnya juga ada sektor komoditas, khususnya batubara mengingat tren harga yang cukup baik. Hanya saja, ia menyarankan sektor komoditas batubara menjadi diversifikasi.

Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat terkait harga batubara ia menyarankan investor untuk berhati-hati lantaran akan ada saatnya permintaan akan stabil.

"Saat ini memang permintaan sedang hype karena aktivitas ekonomi telah mulai berjalan dan mobilitas dibuka sehingga memberi pengaruh pada harga batubara, tetapi kami melihat batubara tidak akan mengalami kenaikan yang lebih tinggi lagi," sebutnya.

Hal itu lantaran saat ini kondisi global yang mana China telah mulai melakukan lockdown secara parsial. Kemudian, di Amerika Serikat sebanyak 1.100 penerbangan telah dibatalkan dan juga Australia juga telah menunjukkan peningkatan kasus 10.000 per hari.

Selain itu, berkaca saat varian omicron masuk harga minyak dan batu bara juga turun. "Sehingga hal ini menjadi perhatian," lanjutnya.

Oleh sebab itu, Nico lebih menjagokan BBCA, BMRI, SMGR, ICBP, AALI, EMTK, dan TBIG. Adapun pada tahun depan ia memproyeksikan IHSG di level 7.384.

Wawan melanjutkan, untuk sektor komoditas batu bara dia melihat emiten yang akan diuntungkan lebih pada yang berorientasi ekspor memanfaatkan sentimen krisis energi. Karenanya, untuk sektor itu Infovesta menjagokan ITMG dan ADRO.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved