Kamis, 26 Maret 2026

Kultum Milenial

Kultum Milenial - Marsya Ayu Mahasiswa IAIN Gorontalo: Tiga Tingkatan Puasa untuk Meraih Ketakwaan 

Seluruh ibadah yang kita laksanakan shalat, zakat, dan haji semuanya ditujukan semata-mata untuk Allah SWT. 

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
  • Menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri
  • Fokus pada aspek lahiriah, sah secara fiqh, tetapi nilai spiritual belum maksimal
  • Menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat: pandangan, lisan, pendengaran, dan perbuatan

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Seluruh ibadah yang kita laksanakan shalat, zakat, dan haji semuanya ditujukan semata-mata untuk Allah SWT. 

Namun di antara seluruh ibadah tersebut, puasa memiliki keistimewaan yang sangat khusus.

Puasa adalah ibadah yang secara eksklusif diperuntukkan bagi Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi, bahwa Allah berfirman, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Keistimewaan ini terletak pada sifat puasa yang tidak dapat diverifikasi secara lahiriah oleh manusia. 

Hanya Allah SWT dan orang yang melaksanakannya yang benar-benar mengetahui apakah ia sedang berpuasa atau tidak. 

Berbeda dengan shalat yang bisa dilihat gerakannya, zakat yang tampak dalam penyalurannya, atau haji yang terlihat dalam pelaksanaannya, puasa adalah ibadah yang sepenuhnya bersifat batiniah. 

Ia tersembunyi, sunyi, dan jujur. Karena itulah puasa menjadi ibadah yang sangat dekat dengan keikhlasan.

Selain itu, puasa juga merupakan bentuk nyata perlawanan seorang mukmin terhadap godaan setan. Saat berpuasa, seseorang menahan diri dari berbagai dorongan syahwat duniawi makan, minum, dan hawa nafsu lainnya yang selama ini menjadi pintu masuk godaan setan. 

Oleh sebab itu, puasa disebut sebagai tameng atau perisai. Rasulullah SAW bersabda, “Ash-shiyāmu junnah,” puasa adalah perisai.

Dengan puasa, seorang mukmin membelenggu setan dan mempersempit ruang geraknya dalam menggoda manusia melalui syahwat dan keinginan duniawi.

Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan puasa ke dalam tiga tingkatan, yang menggambarkan kualitas dan kedalaman ibadah puasa seseorang.

Pertama: Shaum al-‘Umum (Puasa Orang Kebanyakan)

Tingkatan ini merupakan level dasar dalam berpuasa. Pada tahap ini, seseorang berpuasa dengan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Puasa pada tingkatan ini lebih menekankan pada aspek jasmani semata. Fokusnya adalah tidak melakukan hal-hal yang secara fiqh membatalkan puasa. Namun, pada level ini, seseorang belum sepenuhnya menjaga anggota tubuh lainnya, seperti pandangan, lisan, pendengaran, dan hati.

Akibatnya, orang yang berada pada tingkatan ini masih berpotensi melakukan perbuatan dosa saat berpuasa seperti berkata kotor, berbohong, menggunjing, memandang hal yang diharamkan, atau menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. 

Puasanya sah secara hukum, tetapi nilai spiritualnya belum maksimal.

Kedua: Shaum al-Khusus (Puasa Orang-orang Pilihan)

Pada tingkatan ini, puasa tidak hanya menahan perut dan kemaluan, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Orang yang berpuasa pada level ini menjaga pandangannya dari hal yang haram, lisannya dari ucapan yang sia-sia dan menyakiti, pendengarannya dari keburukan, serta seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat. Ia tidak hanya menahan syahwat, tetapi juga mengontrol perilaku dan sikapnya.

Menurut Imam Al-Ghazali, hakikat puasa pada tingkat ini mulai tampak sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Puasa menjadi media penyucian diri, latihan pengendalian nafsu, dan sarana untuk menumbuhkan kesadaran spiritual.

Namun, puasa sebagai media hanya akan berfungsi dengan baik apabila dilandasi oleh niat dan kemauan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Caranya adalah dengan memerangi keinginan-keinginan lahiriah yang menjauhkan hati dari Allah.

Ketiga: Shaum Khusus al-Khusus (Puasa Orang-orang yang Didekatkan kepada Allah)

Inilah tingkatan puasa yang paling tinggi. Pada level ini, puasa tidak hanya dilakukan oleh jasmani dan anggota tubuh, tetapi juga oleh hati dan pikiran.

Puasa pada tingkatan ini adalah puasa hati menahan diri dari segala cita-cita yang hina, pikiran duniawi yang melalaikan, serta memalingkan hati dari selain Allah secara total. 

Segala sesuatu yang memenuhi hati dan pikiran diarahkan hanya untuk Allah SWT

Biasanya, tingkatan ini dicapai oleh para nabi, para wali, orang-orang shiddiq, dan hamba-hamba Allah yang didekatkan kepada-Nya. Mereka bahkan merasa puasanya “tercederai” ketika hati dan pikirannya disibukkan oleh urusan dunia, kecuali urusan dunia tersebut diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tiga tingkatan puasa ini menunjukkan bahwa ibadah puasa adalah sebuah proses. Proses perbaikan diri yang berkelanjutan. 

Seseorang bisa memulai dari puasa pada tingkat dasar, kemudian meningkat menuju puasa yang lebih berkualitas dengan menjaga anggota tubuhnya, hingga akhirnya berusaha mencapai puasa hati yang sepenuhnya tertuju kepada Allah SWT.

Maka dari itu, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing Di tingkatan manakah puasa kita saat ini? Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.(*/Jefri)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved