Kultum Milenial
Kultum Milenial - Marsya Ayu Mahasiswa IAIN Gorontalo: Tiga Tingkatan Puasa untuk Meraih Ketakwaan
Seluruh ibadah yang kita laksanakan shalat, zakat, dan haji semuanya ditujukan semata-mata untuk Allah SWT.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri
- Fokus pada aspek lahiriah, sah secara fiqh, tetapi nilai spiritual belum maksimal
- Menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat: pandangan, lisan, pendengaran, dan perbuatan
TRIBUNGORONTALO.COM – Seluruh ibadah yang kita laksanakan shalat, zakat, dan haji semuanya ditujukan semata-mata untuk Allah SWT.
Namun di antara seluruh ibadah tersebut, puasa memiliki keistimewaan yang sangat khusus.
Puasa adalah ibadah yang secara eksklusif diperuntukkan bagi Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi, bahwa Allah berfirman, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Keistimewaan ini terletak pada sifat puasa yang tidak dapat diverifikasi secara lahiriah oleh manusia.
Hanya Allah SWT dan orang yang melaksanakannya yang benar-benar mengetahui apakah ia sedang berpuasa atau tidak.
Berbeda dengan shalat yang bisa dilihat gerakannya, zakat yang tampak dalam penyalurannya, atau haji yang terlihat dalam pelaksanaannya, puasa adalah ibadah yang sepenuhnya bersifat batiniah.
Ia tersembunyi, sunyi, dan jujur. Karena itulah puasa menjadi ibadah yang sangat dekat dengan keikhlasan.
Selain itu, puasa juga merupakan bentuk nyata perlawanan seorang mukmin terhadap godaan setan. Saat berpuasa, seseorang menahan diri dari berbagai dorongan syahwat duniawi makan, minum, dan hawa nafsu lainnya yang selama ini menjadi pintu masuk godaan setan.
Oleh sebab itu, puasa disebut sebagai tameng atau perisai. Rasulullah SAW bersabda, “Ash-shiyāmu junnah,” puasa adalah perisai.
Dengan puasa, seorang mukmin membelenggu setan dan mempersempit ruang geraknya dalam menggoda manusia melalui syahwat dan keinginan duniawi.
Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan puasa ke dalam tiga tingkatan, yang menggambarkan kualitas dan kedalaman ibadah puasa seseorang.
Pertama: Shaum al-‘Umum (Puasa Orang Kebanyakan)
Tingkatan ini merupakan level dasar dalam berpuasa. Pada tahap ini, seseorang berpuasa dengan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Puasa pada tingkatan ini lebih menekankan pada aspek jasmani semata. Fokusnya adalah tidak melakukan hal-hal yang secara fiqh membatalkan puasa. Namun, pada level ini, seseorang belum sepenuhnya menjaga anggota tubuh lainnya, seperti pandangan, lisan, pendengaran, dan hati.
Akibatnya, orang yang berada pada tingkatan ini masih berpotensi melakukan perbuatan dosa saat berpuasa seperti berkata kotor, berbohong, menggunjing, memandang hal yang diharamkan, atau menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.